Berani Tampil Beda

Senin, 15 Juni 2026 – Hari Biasa Pekan XI

17

Matius 5:38-42

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam darimu.”

***

Sering kali kita terluka dan dirugikan, sehingga merasa perlu untuk memastikan bahwa seseorang harus menanggung konsekuensi atas luka yang telah ditimbulkannya. Namun, hendaknya kita menyadari bahwa jika membalas dendam, kita justru sedang memelihara rasa tidak mau memaafkan, dan yang lebih menyakitkan lagi, entah disadari atau tidak, perasaan dan sikap seperti itu justru semakin memperdalam luka kita. Epiktetus, seorang cendekiawan Yunani kuno, mengatakan, “Pengampunan lebih baik daripada balas dendam. Yang satu menunjukkan kelembutan, sementara yang lain menunjukkan kekejaman.” Tindakan balas dendam sejatinya tidak pernah menyembuhkan dan menyelesaikan masalah, selain hanya memindahkan luka dari satu hati ke hati yang lain.

Yesus hari ini mengingatkan kita untuk berani tampil beda, yakni dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Semangat mengampuni bukan berarti membenarkan tindakan jahat, melainkan memilih untuk tidak membiarkan kejahatan menguasai hati kita. Balas dendam akan membuat kita kurang terbuka terhadap hubungan kasih dengan sesama yang lain, serta bertentangan dengan jati diri kita sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang pada dasarnya adalah kasih. Dengan tidak membalas dendam, Yesus mengajak kita untuk hidup sesuai dengan martabat mulia kita sebagai anak-anak Allah. Hal ini memang tidak selalu mudah. Namun, inilah satu-satunya jalan yang menuju pada kebahagiaan dan kehidupan kekal.

Melalui jalan tersebut, Yesus memberikan standar baru yang tidak hanya didasarkan pada tuntutan keadilan, yakni memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, tetapi didasarkan pada hukum kasih. Tidak ada tempat untuk pembalasan dendam. Tidak hanya harus menghindari tindakan balas dendam, kita juga harus berlaku baik terhadap mereka yang berlaku jahat terhadap kita. Mengapa demikian? Yesus menyadari bahwa kejahatan yang dilakukan terhadap sesama dapat dengan mudah memicu kejahatan lainnya.

Mengikuti jalan baru yang dicanangkan Yesus memang tidak mudah, terutama di tengah dunia yang cenderung mendorong seseorang untuk secara agresif membalas dendam. Namun, kalau kita terus memberlakukan hukum “mata ganti mata, gigi ganti gigi”, kita semua akan menjadi buta dan ompong. Bahkan, bukan sekadar tidak melakukan balas dendam, kita harus pula mengusahakan bagaimana caranya memberi pengaruh positif terhadap yang lain. Bukan sekadar tidak menginginkan orang lain gagal, kita perlu bertindak agar orang lain berhasil dan mengambil langkah konkret agar mereka menjadi lebih baik dan berada di jalan yang benar. Jangan sia-siakan energi kita untuk membalas dendam dan melakukan hal-hal yang keliru. Marilah kita mulai melakukan pekerjaan baik dengan sebaik mungkin. Jika itu baik, itu akan menggantikan apa yang buruk. Jangan ikut arus. Marilah kita tampil beda sesuai dengan versi terbaik kita untuk memberi pengaruh positif bagi sesama yang lain.