Perihal Mengasihi

Selasa, 16 Juni 2026 – Hari Biasa Pekan XI

12

Matius 5:43-48

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

***

Setelah mengundang kita untuk tidak membalas dendam, Yesus mengajak kita melangkah lebih jauh, yakni untuk menanamkan semangat kasih yang melampaui sekat kenyamanan. Yesus menantang kita untuk tidak hanya mengasihi mereka yang dekat di hati kita, tetapi juga untuk mendoakan dan mengasihi orang-orang yang menyakiti kita. Ia dengan ini tidak memberi kita sebuah teori moral yang indah, tetapi sebuah undangan yang hanya mungkin bisa kita lakukan ketika membiarkan hati kita dibentuk oleh Roh-Nya.

Mengasihi dan mendoakan musuh bukan berarti membiarkan kejahatan berkembang biak. Ini merupakan sebuah upaya untuk memutuskan mata rantai kejahatan. Ketika Yesus meminta kita untuk mengasihi dan mendoakan orang-orang yang menyakiti kita, Ia sejatinya mengajak kita untuk melihat dan memperlakukan sesama bukan dari luka yang mereka sebabkan, melainkan dari martabat mereka sebagai anak-anak Allah. Ketika kita mengasihi orang yang menyakiti kita, itu berarti kita mengakui bahwa mereka dikasihi oleh Allah, bahkan ketika mereka rapuh dan berdosa. 

Hal itu memang bertentangan dengan kecenderungan alami kita untuk membalas dendam terhadap orang yang menyakiti kita, serta untuk membenci dan mengutuk mereka yang menganiaya kita. Tentu saja sangat gampang mengasihi mereka yang mengasihi kita. Namun, Yesus mendorong kita untuk maju selangkah lebih jauh, “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?”

Ketika meminta kita untuk mengasihi musuh, Yesus tidak meminta kita untuk menyetujui perilaku dan keyakinan mereka. Sebaliknya, Ia mengharapkan agar kita tidak menginginkan kejahatan menimpa sesama. Ia meminta kita untuk mendoakan mereka. Berdoa bagi musuh merupakan tindakan yang aktif. Ini merupakan tindakan penyembuhan, baik bagi mereka maupun bagi diri kita sendiri. Doa mampu memutus rantai kebencian yang ingin terus mengikat hati kita.

Dalam kehidupan bersama, kasih bukan hanya seputar hal-hal yang luar biasa. Kasih selalu dimulai dari hal-hal sederhana, yakni ketika kita memilih untuk tidak membalas kata-kata yang menyakitkan, ketika kita berusaha untuk mendengarkan, dan ketika kita berani memberi kesempatan kedua. Di sinilah letak keunikan dan kekhasan kemuridan kristiani. Yesus sendiri telah memberi kita teladan. Di kayu salib, ketika dihina dan ditinggalkan, Yesus justru berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka.”