Sapaan yang Membangkitkan

Rabu, 22 Juli 2026 – Pesta Santa Maria Magdalena

19

Yohanes 20:1,11-18

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.

Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

***

Maria Magdalena sedih saat Yesus wafat di salib. Ia menjadi semakin sedih ketika mengunjungi kubur Yesus dan mendapati bahwa kubur itu kosong. Ia menyangka bahwa jenazah Yesus telah dicuri orang. Kesedihan yang mendalam telah menutupi mata hati Maria, sehingga ia tidak mengenal Yesus yang sedang berbicara dengannya. Ia malah berprasangka buruk. Ia mengira Yesus adalah penunggu taman yang telah melakukan pencurian jenazah. 

Maria Magdalena sadar ketika Yesus menyapanya secara personal. Sapaan Yesus menghapus kabut kesedihan dan membuka mata hati Maria. Sapaan Yesus mengubah dukacita menjadi sukacita. Sapaan Yesus juga mengubah kehilangan menjadi perutusan. Namun, yang paling utama, sapaan Yesus itu menyatakan bahwa Ia telah bangkit dan hidup. 

Saudara-saudari terkasih, Tuhan yang bangkit mengenal kita secara personal. Ia memanggil kita dengan nama kita masing-masing. Di tengah duka, kegagalan, kejatuhan, dan kegalauan, Tuhan tidak mengabaikan kita. Ia datang dan menyapa. Ia membawa harapan baru bagi kita. Sapaan itu menarik kita keluar dari “makam” persoalan kita, sehingga kita bangkit. Seperti Maria Magdalena, sebenarnya manusiawi saja kalau kita menangisi dan mengasihani diri kita. Namun, jangan sampai kita kehilangan harapan dan iman. Semoga hati kita tetap peka akan kehadiran Tuhan dan mendengar sapaan-Nya.