Hati yang Subur

Jumat, 24 Juli 2026 – Hari Biasa Pekan XVI

8

Matius 13:18-23

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”

***

Yesus menjelaskan arti perumpamaan tentang penabur benih kepada para murid. Tanah di pinggir jalan melambangkan tipe pendengar simpatisan. Tanah yang berbatu-batu menggambarkan tipe pendengar yang penuh ketakutan. Tanah yang semak berduri adalah tipe pendengar yang materialistis. Akhirnya, tanah yang subur adalah tipe pendengar yang sejati.

Saudara-saudari terkasih, sekarang marilah kita berefleksi: Kita termasuk tipe tanah yang mana? Pada kenyataannya, kadang kala hati kita seperti tanah di pinggir jalan: Keras dan tidak peka. Kadang kala hati kita seperti tanah berbatu-batu: Penuh antusiasme, tetapi mudah goyah apabila menghadapi cobaan. Kadang kala hati kita seperti semak belukar: Dipenuhi dengan keinginan duniawi. Kadang kala hati kita juga seperti tanah yang subur: Mengerti dan mengamalkan sabda Tuhan. 

Menarik bahwa apa pun kondisi hati kita, Tuhan tetap setia menyatakan kehendak-Nya. Seperti penabur benih, Tuhan tidak pernah berhenti menaburkan sabda dalam hati kita sepanjang hidup kita. Ia tidak berhenti sampai kita menanggapi dan percaya kepada-Nya. Karena itu, marilah kita memperbarui hati kita, agar layak dan menjadi lahan yang subur bagi sabda Tuhan.