Menemukan Wajah Kristus dalam Budaya Lokal Sumatra Utara

Pertemuan Delkit Regio Sumatra 2026

41

Medan – Budaya lokal merupakan ladang subur bagi pewartaan sabda Allah. Dari bahasa, simbol, hingga tradisi yang hidup di tengah masyarakat, Gereja menemukan jalan untuk menghadirkan pribadi Kristus secara makin akrab dan mudah dikenali umat. Gagasan inilah yang menjadi benang merah pertemuan Delegatus Kitab Suci (Delkit) Regio Sumatra tahun 2026 yang berlangsung di Catholic Center Christosophia Keuskupan Agung Medan pada 15-19 Juni 2026.

Pertemuan yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali ini diikuti oleh para Delkit dari Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, Keuskupan Padang, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Pangkal Pinang, dan Keuskupan Tanjungkarang. Hadir juga sebagai peserta istimewa utusan khusus Komisi Kitab Suci Konferensi Waligereja Timor ‎Leste yang berniat mengamati dan mempelajari penerapan kerasulan Kitab Suci dalam konteks budaya lokal.

Turut hadir pula Ketua Lembaga Biblika Indonesia (LBI) RP. Albertus Purnomo OFM, serta utusan dari Komisi Kitab Suci Timor Leste RP. Paulus Kerans SVD dan RP. Joaquim Sarmento SJ yang turut berbagi pengalaman tentang penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa lokal Tetun Terik.

Mengusung tema Menemukan Wajah Yesus dalam Budaya Lokal, pertemuan ini ‎menjadi ruang bersama untuk saling berbagi pengalaman, memperkaya pelayanan kerasulan Kitab Suci, sekaligus memperkuat karya pewartaan sabda Allah di berbagai keuskupan di wilayah Regio Sumatra.

Rangkaian kegiatan dibuka dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Keuskupan Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, didampingi Ketua LBI RP. Albertus Purnomo OFM, dan Ketua Delkit Regio Sumatra RP. Yonas Manue Hunu SVD di Kapel St. Faustina Catholic Center Cristosophia Keuskupan Agung Medan.

Dalam homilinya, Mgr. Kornelius mengajak seluruh peserta menjadikan pertemuan tersebut sebagai kesempatan untuk makin bertumbuh dalam sabda Tuhan melalui dialog dan refleksi bersama. “Pertemuan ini hendaknya menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dan bersama-sama merefleksikan sabda Tuhan dalam kehidupan dan pelayanan kita,” ungkap Mgr. Kornelius. Ajakan tersebut menjadi semangat dasar seluruh rangkaian kegiatan ini.

Selesai perayaan Ekaristi, Bapa Uskup bersama para peserta mengadakan acara ramah-tamah. Dalam kesempatan ini, dilangsungkan perkenalan dari tiap keuskupan, kata sambutan dari Ketua LBI dan Ketua Regio Sumatra, kata sambutan dan perkenalan dari Ketua Komisi KKS KAM beserta BPH dan panitia, serta sambutan dari Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap yang sekaligus membuka secara resmi pertemuan ini.

Budaya lokal menjadi jalan pewartaan

Seminar Kitab Suci yang menjadi agenda utama pertemuan Delkit ini berangkat dari satu keyakinan bersama bahwa Injil tidak pernah diwartakan di ruang yang kosong. Sejak zaman Kitab Suci hingga sekarang, sabda Allah selalu hadir dalam sejarah, bahasa, dan budaya manusia. Karena itu, budaya lokal bukanlah penghalang pewartaan, melainkan ruang tempat sabda Allah bertumbuh dan berbuah.

Dalam pengantar seminar, Ketua Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Agung Medan RP. Paulus Halek Bere SS.CC menjelaskan bahwa Kitab Suci lahir dari pergulatan Allah dengan manusia dalam sejarah yang nyata. Oleh sebab itu, pewartaan sabda Allah selalu perlu memperhatikan konteks budaya masyarakat yang menerimanya. Kontekstualisasi tersebut harus dilakukan secara bijaksana agar Injil sungguh berakar dalam budaya tanpa jatuh ke dalam sinkretisme.

Gagasan tersebut kemudian diperdalam oleh Ketua LBI RP. Albertus Purnomo OFM. Ia menegaskan bahwa tujuan membaca Kitab Suci bukan sekadar memperkaya pengetahuan, melainkan membawa umat agar makin mengenal dan menyerupai Yesus Kristus. Kekristenan bukan agama kitab semata, melainkan agama yang berpusat pada pribadi Yesus ‎Kristus. ‎Karena itu, kerasulan Kitab Suci tidak boleh berhenti pada kegiatan membaca Alkitab, tetapi harus membangun kehidupan beriman, keluarga, dan semangat perutusan Gereja. “Kitab Suci adalah sabda Allah yang hidup. Agar tetap hidup, sabda Allah harus hadir melalui budaya masyarakat setempat maupun perkembangan teknologi dan media komunikasi sehingga sungguh menjadi bagian dari identitas umat,” tegas RP. Purnomo. Merujuk Dokumen Konsili Vatikan II Dei Verbum 21-25, dosen Kitab Suci SFT Driyarkara Jakarta ini mengatakan bahwa Gereja terus berupaya menerjemahkan dan ‎mengontekstualisasikan sabda Allah agar dapat dipahami oleh setiap bangsa dan budaya tanpa ‎kehilangan kemurnian iman.‎

Dalam seminar terungkap bahwa iman kristiani tidak hanya tidak bertentangan dengan budaya lokal, tetapi benihnya malah sudah bersemi di dalamnya. Hal ini ditegaskan oleh antropolog RP. Herman Yosef Nainggolan OFMCap. Ia menguraikan kekayaan budaya Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Pakpak sebagai seminarium verbi atau tempat sabda Allah bersemai. Subetnis di Sumatra Utara itu memiliki konsep ketuhanan tradisional seperti Ompu, Mula Jadi Nabolon, Dibata ‎Idah, Tuan Na Bolon, dan Raja Panusunan Bulung.‎ Konsep kasih, penghormatan kepada sesama, dan solidaritas terkandung di dalamnya. “Nilai-nilai luhur tersebut merupakan semina verbi atau benih-benih sabda yang telah lebih dahulu hadir dalam budaya lokal bahkan sebelum Injil diberitakan secara resmi,” katanya. Oleh sebab itu, RP. Herman mengajak Gereja melihat pergeseran paradigma dari inkulturasi menuju ‎interkulturasi. Interkulturasi dipahami sebagai hubungan timbal balik antara iman dan budaya, ‎sehingga keduanya saling memperkaya. Iman tidak meniadakan kekayaan budaya lokal, tetapi memurnikannya. Demikian pula sebaliknya, budaya lokal menghadirkan sabda Allah secara lebih hidup sesuai dengan suasana kebatinan umat Allah.

Pandangan itu mendapat landasan biblis melalui pemaparan RP. Yonas Manue Hunu SVD. Ia menjelaskan bahwa Kitab Suci sendiri lahir dalam konteks budaya Yahudi, Yunani, dan Romawi. Bahasa yang digunakan dalam Kitab Suci bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana Allah menyatakan diri kepada manusia. “Kitab Suci menjadi jendela untuk melihat dunia masa lalu sekaligus cermin untuk membaca kehidupan kita hari ini,” katanya. Ketua Delkit Regio Sumatra tersebut menegaskan bahwa memahami budaya menjadi bagian penting dalam memahami Kitab Suci. Allah selalu berkarya dalam konteks kehidupan manusia. “Allah adalah Allah yang kontekstual karena selalu menyatakan diri dalam suatu konteks. Karena itu, kita perlu hidup dalam konteks Kitab Suci sekaligus konteks budaya kita sendiri agar tetap setia kepada iman tanpa tercerabut dari akar budaya,” lanjutnya.

Meskipun Gereja menghargai budaya lokal, inkulturasi tidak berarti mencampuradukkan iman dengan seluruh unsur budaya. Hal itu ditegaskan narasumber selanjutnya, yakni RD. Josep Parasian Gultom. Ketua Karya Misi Kepausan Indonesia Keuskupan Agung Medan ini menjelaskan bahwa inkulturasi merupakan proses penjelmaan Injil ke dalam suatu budaya, sehingga iman dapat dihayati melalui kebudayaan setempat. “Inkulturasi berbeda dengan asimilasi yang menghilangkan identitas budaya, juga berbeda dengan sinkretisme yang mencampuradukkan ajaran iman dengan kepercayaan lain. Inkulturasi memurnikan budaya melalui terang Injil. Dasar biblisnya ialah peristiwa inkarnasi, ketika sabda menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita (Yoh. 1:14),” tegasnya.

Seluruh refleksi mengenai Kitab Suci dan budaya akhirnya bermuara pada liturgi Gereja. RP. Fransiskus Xaverius Marmidi SCJ menjelaskan bahwa liturgi merupakan tempat sabda Allah terus dihidupi oleh umat. Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi membentuk satu kesatuan yang menghadirkan karya keselamatan Kristus. Gereja tidak hanya membaca Kitab Suci, tetapi juga menafsirkan, merayakan, dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan umat. Karena itu, menurut RP. Marmidi, penggunaan unsur-unsur budaya dalam liturgi perlu selalu disertai katekese yang baik agar umat memahami maknanya dalam terang iman. “Liturgi menjadi sarana Gereja untuk membaca, merenungkan, dan menghidupi Kitab Suci secara utuh, sehingga kita makin menemukan Yesus Kristus,” tuturnya. Sejak Gereja perdana, sabda Allah dan Ekaristi selalu menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Rangkaian seminar yang sarat akan bobot akademis ini diakhiri dengan momen apresiasi simbolis. Panitia memberikan cendera mata kepada para narasumber sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi intelektual dan spiritual mereka. Sebagai wujud nyata dari semangat pelestarian budaya lokal, empat orang perwakilan peserta menerima Kitab Suci berbahasa daerah, yakni bahasa Pakpak dan Simalungun. Selain itu, peserta yang aktif bertanya dalam setiap sesi juga menerima cendera mata berupa buku-buku penunjang sebagai insentif bagi semangat dialog dan keterlibatan akademik.

Komitmen dan arah bersama Delkit Regio Sumatra

Pertemuan internal para Delkit Regio Sumatra yang dipimpin Ketua Regio Sumatra RP. Yonas Hunu SVD mengarah kepada komitmen dan langkah bersama bagaimana mengembangkan kerasulan Kitab Suci dalam konteks lokal masing-masing. Pertemuan ini dibagi dalam tiga agenda utama, yaitu pemaparan dari Ketua LBI, berbagi pengalaman dari masing-masing keuskupan, serta penyusunan deklarasi bersama.

Dalam kesempatan itu, RP. Purnomo memperkenalkan perkembangan LBI, termasuk arah pastoral Kitab Suci yang sedang dikembangkan. Ia juga mengajak setiap keuskupan untuk menghadirkan kegiatan yang lebih kreatif dalam Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). “BKSN hendaknya tidak hanya diisi dengan pendalaman Kitab Suci, tetapi juga dapat dikembangkan melalui festival, lomba, atau berbagai kegiatan kreatif yang makin menumbuhkan kecintaan umat pada sabda Allah”, pesannya.

Para peserta juga mendengarkan kesaksian dari utusan Timor Leste mengenai upaya penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa lokal yang merupakan tuntutan Vatikan untuk liturgi dan pengajaran iman. Sesudah itu, para peserta saling berbagi pengalaman. Sharing antarkeuskupan ini menjadi ruang belajar bersama, serta memperkaya strategi kerasulan Kitab Suci di masing-masing wilayah.

Ziarah dan peneguhan komitmen

Pertemuan Delkit Regio Sumatra ditutup dengan kunjungan budaya ke beberapa tempat yang mempertemukan budaya dan iman di Kota Medan, Pulau Samosir, dan Tanah Karo pada tanggal 18 Juni 2026. Para peserta dapat melihat secara langsung bagaimana iman kristiani hidup dan dihayati umat lokal dalam budaya mereka masing-masing. Yang dikunjungi adalah Seminari Tinggi Santo Petrus (STSP), Kota Tua Sialagan, serta menikmati keindahan budaya Batak Toba, termasuk mengenal Tortor Batak sebagai sarana kontekstualisasi pemurnian nilai budaya dalam evangelisasi.

Pada hari terakhir, 19 Juni 2026, para peserta melakukan ziarah ke patung Yesus Sibeabea sebelum merayakan Ekaristi penutup di Paroki St. Perawan Maria, Kabanjahe, Tanah Karo, yang dipimpin oleh RP. Albertus Purnomo OFM. Dalam perayaan Ekaristi penutup, Ketua Regio Sumatra RP. Yonas Hunu SVD membacakan komitmen bersama. Para peserta menyatakan tekad untuk setia pada ajaran iman dalam terang Kitab Suci dan menjadikan budaya lokal sebagai sarana pewartaan. Mereka menyadari bahwa keberagaman budaya dan bahasa di Sumatra dan Kepulauan Riau adalah anugerah yang harus dirawat, bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai jembatan untuk menghadirkan Kristus secara lebih nyata dan akrab di tengah umat. Semua berkomitmen untuk menghargai simbol dan bahasa daerah, menemukan benih-benih sabda Allah dalam budaya masyarakat, memperhatikan kaderisasi kaum muda, memanfaatkan media komunikasi digital, serta mengembangkan metode pewartaan yang makin dekat dengan generasi muda.

Pertemuan Delkit Regio Sumatra 2026 ini diharapkan menjadi titik tolak bagi gerakan kerasulan Kitab Suci yang lebih kontekstual, kreatif, dan berdaya jangkau luas, sejalan dengan semangat Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan yang bertema: Gereja KAM Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan, dan Mewartakan.***