
Yohanes 3:13-17
“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain dari Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
***
Kekuatan iman tidak akan tampak pada masa-masa indah dan mudah. Iman hanya dapat dibuktikan ketika manusia berada dalam kesulitan dan penderitaan, saat berada di jalan terjal seperti tak berujung, saat mengalami derita seperti tak berkesudahan. Pada momen-momen seperti itulah kekuatan iman akan bisa terlihat jelas. Apakah pada titik itu manusia tetap setia mengikuti Tuhan? Apakah ia sanggup tetap mengingat perbuatan-perbuatan baik Tuhan dalam hidupnya dahulu?
Ada orang yang ingin ikut Yesus karena terpukau setelah mendengarkan kesaksian tentang betapa baiknya Tuhan dalam hidup manusia. Ada juga yang memilih menjadi Katolik karena kagum akan keindahan gereja dan tradisi Katolik. Mereka tahu tentang salib, kisah penyaliban Yesus, bahkan mungkin menggantungkan salib di dada mereka. Namun, ketika kesulitan dan penderitaan datang, mereka tidak sabar dan meragukan, “Di mana Tuhan? Mengapa Tuhan tidak adil? Mengapa doa-doaku tidak didengarkan dan tidak dikabulkan?” Mereka sama seperti orang Israel yang bersungut-sungut saat dipimpin Musa keluar dari Mesir. Mereka tidak sungguh-sungguh mengerti akan makna salib.
Bukan sekadar hiasan, salib memiliki banyak makna. Salib bisa menjadi tanda identitas diri kita sebagai orang Katolik, para pengikut Yesus. Salib adalah simbol penderitaan dan hinaan yang harus ditanggung Yesus, namun sekaligus merupakan simbol kekuatan dan kemenangan. Salib juga merupakan bukti besarnya cinta dan solidaritas Allah terhadap penderitaan manusia. Ketika memandang salib, kita diingatkan kembali bahwa Tuhan tidak pernah berada jauh dari kita. Ia selalu hadir bahkan dalam penderitaan manusia.
Ada orang yang ingin ikut Yesus dan memilih menjadi Katolik, tetapi masih berusaha menolak salib. Salib yang dipikul Yesus sepanjang jalan di Yerusalem hingga ke Bukit Golgota merupakan salib yang sama yang harus dipikul setiap pengikut-Nya sepanjang jalan kehidupan hingga ke kematian. Namun, salib bukan sekadar simbol penderitaan. Salib juga tanda kemuliaan. Ingat, Yesus ditinggikan dan dimuliakan di atas kayu salib.
Hari ini, kita merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci. Perayaan ini dikaitkan dengan penemuan kayu salib Yesus yang asli oleh Santa Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus Agung. Mari kita renungkan kembali makna salib Kristus. Dari simbol kehinaan dan penderitaan, salib menjadi simbol harapan dan kemenangan yang membawa jalan keselamatan Tuhan. Jika hari ini kita masih berjalan memanggul derita, janganlah kita kemudian melupakan kebaikan dan perbuatan-perbuatan Tuhan. Di ujung jalan salib selalu ada kemenangan. Bila kita masih merasa berada di tempat yang sangat rendah, percayalah bahwa pada akhirnya orang-orang yang setia mengikuti-Nya akan ikut ditinggikan oleh-Nya.










