Cinta Adalah Kebebasan

Jumat, 30 Oktober 2026 – Hari Biasa Pekan XXX

74

Lukas 14:1-6

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: “Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya.

***

Ketika Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang Farisi untuk makan pada hari Sabat, seorang yang sakit busung air tiba-tiba berdiri di hadapan-Nya. Yesus lalu bertanya kepada para ahli Taurat dan orang Farisi yang ada di situ apakah menyembuhkan orang pada hari Sabat diperbolehkan atau tidak. Mereka semua diam saja. Yesus kemudian memegang tangan si sakit dan menyembuhkannya. Hal itu dilakukan karena cinta-Nya yang besar pada manusia dan kehidupan. Orang-orang itu tidak mampu membantah tindakan dan perkataan Yesus.

Perikop ini mengingatkan saya pada sebuah lagu yang berjudul Cinta, dari buku Allah Cinta Hidup Muda (ACHM) nomor 42. Liriknya seperti ini:

Cinta itu berprakasa, yang mengundang langkah pertama. Bertepuk sebelah tangan, yang diundang tidak datang. Tempat telah disediakan, perjamuan disiapkan. Cinta itu berprakarsa. Dia menantang manusia. Cinta Allah sia-sia. Cinta itu berprakasa, mengundang langkah pertama.

Cinta itu kebebasan, bukan kesima dan paksaan. Mengajak orang pinggiran, mengundang orang buangan. Hari cerah penuh harapan, anak hilang dinantikan. Cinta itu kebebasan. Tetap memberi kesempatan, senyum serta pengampunan. Cinta itu kebebasan, cinta itu kebebasan.

Lirik lagu sederhana ini membuat saya terenyuh. Ternyata, cinta Tuhan itu sangat luar biasa untuk kita semua. Dengan penuh cinta, Ia mengundang kita untuk datang, namun terkadang cinta-Nya bertepuk sebelah tangan. Sering kali undangan Tuhan juga terabaikan karena mungkin kurang menarik bagi kita bila dibandingkan dengan tawaran yang ada di dunia ini. Namun, Tuhan memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih: Mau melakukan yang baik dan menjadi berkat bagi sesama atau tidak? 

Cinta Tuhan terkadang menjadi sia-sia, tetapi Ia tetap memberikan kesempatan dan pengampunan. Mari kita menerima undangan Tuhan dan menyambut hari cerah yang penuh harapan bersama-Nya. Mencintai Tuhan memang suatu kebebasan, tetapi jangan pernah sampai kita sia-siakan.