Di Balik Pemberian Tuhan

Minggu, 5 Agustus 2018 – Hari Minggu Biasa XVIII

278

Keluaran 16:2-4, 12-15

Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.”

“Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.”

Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu. Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi. Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.”

***

Orang Israel tidak tahan lagi menanggung penindasan di Mesir. Mereka berteriak meminta pertolongan dan Allah mendengarkan mereka. Allah pun mengutus Musa untuk membawa  orang Israel keluar dari Mesir. Mereka mengadakan perjalanan melintasi padang gurun menuju Tanah Kanaan, yang telah dijanjikan oleh Allah kepada nenek moyang mereka. Setelah lama mengalami penderitaan karena beratnya perbudakan di Mesir, mereka berharap dapat segera sampai ke negeri yang dijanjikan itu, serta menikmati kebebasan dan kesejahteraan.

Namun, beratnya kehidupan di padang gurun membuat mereka mengeluh. Mereka tidak dapat memperoleh makanan untuk kelangsungan hidup mereka. Dalam situasi seperti ini, mereka ingat kembali akan kehidupan di Mesir. Mereka ingat akan makanan yang melimpah; mereka dapat duduk menghadap kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang. Hanya itu yang mereka pikirkan, sebab mereka lapar. Penderitaan akibat diperbudak tidak mereka ingat lagi. Mereka lupa bahwa mereka pernah berteriak minta tolong akibat beratnya perbudakan. Bisa jadi juga mereka menganggap perbudakan sebagai perkara yang ringan bila dibandingkan dengan kelaparan yang mereka hadapi di padang gurun.

Karena itu, mereka menyalahkan Tuhan dan Musa yang mereka anggap bertanggung jawab atas keadaan mereka. Musa, yang telah berjuang untuk membawa mereka keluar dari tanah perbudakan, sekarang justru mereka persalahkan sebagai orang yang berniat membunuh mereka dengan kelaparan. Menanggapi situasi tersebut, Tuhan menurunkan hujan roti dari langit dan mengirimkan burung puyuh sebagai makanan bagi orang Israel. Pada pagi hari, mereka mengumpulkan roti dari surga, yang seperti embun beku di atas tanah. Pada sore hari, mereka menangkapi burung-burung puyuh yang berduyun-duyun datang ke sekitar perkemahan mereka. Dengan demikian, mereka mendapatkan roti dan daging yang mereka inginkan.

Tuhan mengirimkan roti dan daging bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan orang Israel, tetapi juga untuk menguji mereka. Tuhan hendak menguji dan melihat apakah mereka hidup menurut hukum-Nya atau tidak. Ia lalu menetapkan bahwa setiap hari mereka hanya boleh memungut roti sebanyak yang mereka perlukan pada hari itu. Tidak perlu mereka mengambil lebih dari yang mereka perlukan untuk sehari. Pada hari Sabat mereka tidak boleh memungutnya, sehingga pada hari keenam mereka harus mengambil roti untuk dua hari, termasuk untuk hari Sabat.

Mari kita renungkan:

Orang beriman menyampaikan permohonan kepada Allah supaya Allah menolong mereka dan memenuhi apa yang mereka perlukan dalam kehidupan di dunia ini. Permohonan itu disampaikan secara lebih sungguh-sungguh dalam situasi yang sulit dan mendesak. Banyak orang beranggapan bahwa terkabulnya doa adalah tujuan dari doa permohonan yang mereka sampaikan. Namun, belajar dari pengalaman Israel, kita melihat bahwa Tuhan bisa memiliki tujuan lain dengan mengabulkan permohonan itu, yaitu untuk menguji kesetiaan orang beriman kepada-Nya. Ia ingin melihat apakah pemberian yang disampaikan-Nya itu membuat orang beriman semakin setia kepada-Nya atau tidak.