Terang bagi yang Berada dalam Kegelapan

Minggu, 26 Januari 2020 – Hari Minggu Biasa III

320

Matius 4:12-17

Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, — bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”

***

Sebuah kabar mengejutkan sampai kepada Yesus: Yohanes Pembaptis ditangkap. Begitulah nasib para utusan Allah yang gigih membela kebenaran. Pihak-pihak yang terusik oleh karya dan pemberitaan mereka sering kali tidak terima. Orang-orang itu melakukan apa saja untuk membungkam kehendak Allah. Mereka tidak mau kepentingan dan cara hidup mereka yang penuh dosa diganggu. Akibatnya, penolakan dan penganiayaan dialami oleh utusan-utusan Allah, yakni para nabi, Yohanes, dan kelak oleh Yesus sendiri.

Dengan penangkapan Yohanes, karya kenabian putra Zakharia-Elisabet ini praktis berakhir. Pihak lawan bisa jadi merasa senang dengan hal itu, tetapi mereka harus paham bahwa kehendak Allah tidak bisa dihalangi oleh manusia. Seperti kata pepatah, “Patah satu tumbuh seribu,” tenggelamnya Yohanes dengan segera disusul oleh kehadiran Yesus. Tidak membiarkan terjadinya kekosongan, Yesus langsung berkeliling dan mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.

Karena situasi Yudea tidak kondusif, Yesus menyingkir ke wilayah Galilea, tepatnya di Kapernaum. Ia memusatkan karya-Nya di situ. Penyingkiran ini digambarkan seperti pengungsian, sama seperti Keluarga Kudus yang mengungsi ke Mesir. Yesus dengan demikian ditampilkan sebagai seorang pengungsi. Inilah gambaran bahwa kuasa kejahatan bekerja dan berusaha mengalahkan kebenaran. Untuk sesaat kebenaran bisa didesak, tetapi bagaimanapun tidak akan bisa dikalahkan.

Karya Yesus di Galilea ternyata menggenapi nubuat Nabi Yesaya (bacaan pertama hari ini, Yes. 8:23b – 9:3). Pengungsian ini justru menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah bagi orang-orang yang tinggal dalam kegelapan. Perlu dipahami bahwa yang dituju oleh Yesus di Galilea tetaplah orang Yahudi. Hanya, mereka ini adalah orang Yahudi yang tinggal di tengah-tengah bangsa lain. Galilea disebut “wilayah bangsa-bangsa lain” setelah dahulu kala ditaklukkan oleh bangsa Asyur.

Dua hal diserukan oleh Yesus. Pertama, Ia menyerukan pertobatan. Pertobatan yang dikehendaki Yesus bukan sekadar berbalik dari dosa, tetapi menuntut pula keterbukaan seseorang kepada Allah dan segala kehendak-Nya.

Kedua, alasan mengapa orang harus bertobat, yakni karena Kerajaan Allah – dalam istilah Matius: “Kerajaan Surga” – sudah dekat. Kuasa Allah sesungguhnya telah hadir dalam pewartaan Yesus; dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya; juga dalam karya kerasulan para murid-Nya. Namun, kehadiran Kerajaan Allah secara definitif masih harus dinantikan lagi, yakni ketika Yesus datang kembali dalam kemuliaan-Nya.

Pesan bagi kita, jangan sampai kita menjadi penghalang karya dan kehendak Allah. Selain sia-sia belaka, tindakan itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Segeralah berbalik dari dosa-dosa kita, dan setelah itu, bukalah hati kita lebar-lebar bagi Allah. Dengarkan apa kehendak-Nya dan lakukan itu dengan sebaik-baiknya. Tanpa itu, kita tak punya pegangan hidup, berjalan ke arah yang salah, dan akhirnya jatuh kembali ke dalam dosa.