Tidak Jauh dari Kerajaan Allah

Kamis, 3 Juni 2021 – Peringatan Wajib Santo Karolus Lwanga

434

Markus 12:28b-34

Lalu seorang ahli Taurat datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

***

Ketika seorang ahli Taurat menanyakan tentang perintah yang paling utama, Yesus menjawab dengan menyebutkan dua perintah yang saling terkait, yakni mengasihi Allah dengan seluruh diri (Ul. 6:4-5) dan mengasihi sesama seperti diri sendiri (Im. 19:17-18). Bagi Yesus, tidak ada perintah lain yang lebih utama dari perintah mengasihi Allah dan sesama. Perintah-perintah lain hanya menjelaskan bagaimana dua perintah tersebut dilaksanakan. Menaati kedua perintah itu berarti menaati seluruh hukum Taurat.

Jawaban Yesus dipuji oleh ahli Taurat tersebut. Ia terkesan dan mengakui bahwa jawaban Yesus sungguh-sungguh benar dan bijak. Allah memang esa dan tidak ada yang lain kecuali Dia. Pengakuan ini menunjukkan bahwa ahli Taurat itu tidak memiliki motivasi buruk ketika mengajukan pertanyaan kepada Yesus, padahal para pemimpin agama Yahudi pada umumnya memusuhi-Nya. 

Ahli Taurat itu lalu menegaskan kembali apa yang dikatakan Yesus dengan sedikit variasi. Menurutnya, mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan, juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya. Melalui penambahan ini, ia menegaskan kembali superioritas perintah mengasihi Allah dan sesama atas perintah-perintah lainnya dalam hukum Taurat.

Yesus memuji pemahaman ahli Taurat itu dengan berkata, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Meski belum diidentifikasi sebagai bagian dari kerajaan Allah, orang itu telah dekat dan bergerak ke arah yang benar. Agar bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, dia hanya perlu melintasi garis batas imannya, sebab menerima ajaran Yesus tentang perintah yang paling utama saja tidak cukup. Orang yang menerima pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah pada akhirnya harus menerima Yesus sendiri sebagai Mesias dan Anak Allah, serta mengikuti Dia sebagai murid-Nya. Namun, kita tidak tahu apa yang kemudian terjadi pada ahli Taurat itu karena oleh penginjil Markus kisahnya dibiarkan terbuka. 

Melalui perikop ini, kita disadarkan bahwa tidak semua pemimpin agama Yahudi menolak Yesus. Beberapa di antara mereka, misalnya Nikodemus, menjadi pengikut-Nya meski secara diam-diam atau rahasia. Kisah Para Rasul juga menunjukkan bahwa ada beberapa orang Farisi yang bersikap positif terhadap orang kristiani (Kis. 5:33; 23:9), ada juga sejumlah besar imam Yahudi yang menjadi percaya (Kis. 6:7). Yakobus bahkan menginformasikan kepada Paulus bahwa ribuan orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat (Kis. 21:20). Jadi, ternyata tidak semua pemimpin Yahudi dan orang Yahudi menolak Injil.