Kebesaran Hati dan Iman yang Dinamis

Kamis, 8 Juli 2021 – Hari Biasa Pekan XIV

72

Matius 10:7-15

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.”

***

Jika harus menyebut nama tokoh-tokoh besar dalam Perjanjian Lama, salah satu nama yang bisa kita sebut adalah Yusuf. Yusuf adalah tokoh besar sekaligus rendah hati. Pengalaman hidupnya menarik untuk direnungkan. Ia dikasihi oleh ayahnya, tetapi dibenci oleh saudara-saudaranya sendiri. Ia adalah anak yang disayangi sekaligus disakiti, dipercaya sekaligus dicobai, diagungkan sekaligus disalahkan. Namun, sepanjang hidup Yusuf, Allah sungguh memperhatikan dan memberi kepercayaan kepadanya. Kemalangan tidak mengeraskan sifatnya; kemakmuran tidak merusak kelakuannya. Ia menjadi pribadi yang sama, baik di ruang privat maupun di ruang publik. Tepatlah kalau ia disebut sebagai seorang tokoh besar yang rendah hati.

Kebesaran dan kerendahan hati Yusuf ditampilkan dalam bacaan pertama hari ini (Kej. 44:18-21, 23b-29; 45:1-5). Sekalipun disakiti dan diperlakukan tidak adil oleh saudara-saudaranya, Yusuf mampu mengampuni mereka. Yusuf mencintai mereka dan memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya. Popularitas, kekuasaan, jabatan, dan kekayaan tidak membutakan mata hatinya.

Di sinilah letak kebesaran Yusuf. Ia berbesar hati untuk mengampuni orang-orang dekat yang menyakitinya. Ia juga memiliki iman yang teguh bahwa Allah memiliki rencana baginya. Karena keteguhan iman itulah, Yusuf bersedia pergi ke mana saja sejauh Tuhan mengutusnya, bahkan dengan cara yang menyakitkan seperti yang dialaminya. Yusuf sendiri berkata, “Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.”

Iman kita bukanlah iman yang pasif. Iman kita itu dinamis, di mana kita senantiasa dikirim Tuhan ke mana saja untuk ambil bagian secara aktif dalam rencana keselamatan-Nya. Hal yang sama dilakukan Yesus kepada para murid dengan mengutus mereka ke mana-mana untuk mewartakan Kerajaan Allah. Pewartaan itu dilakukan dengan menyembuhkan orang sakit, menahirkan orang kusta, dan mengusir roh jahat.

Yesus juga mengutus kita untuk mewartakan Kerajaan Allah dan kabar baik. Marilah kita ingat bahwa Tuhan memiliki rencana bagi kita. Kita hanya perlu memiliki iman dan siap sedia untuk diutus ke mana saja Tuhan mengutus kita.