Menjadi Pribadi yang Peka

Senin, 19 Juli 2021 – Hari Biasa Pekan XVI

86

Matius 12:38-42

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!”

***

Sejak kecil, umumnya anak sudah dibiasakan untuk menangkap, mengerti, dan memahami arti dari tanda atau simbol: Ketika orang tua meletakkan jari telunjuk di depan mulut, itu tandanya anak harus diam alias jangan berisik. Alam pun mengisyaratkan aneka macam tanda: Ketika langit mulai mendung, itu pertanda bahwa akan segera turun hujan. Meskipun demikian, tidak semua orang ternyata peka akan makna dan arti dari tanda-tanda. Banyak orang ternyata bodoh dalam menangkap makna dan arti dari tanda-tanda yang ada di sekitar dirinya.

Ketidakpekaan ini dapat dijumpai dalam diri sejumlah orang Farisi dan ahli Taurat pada zaman Yesus. Mereka menuntut tanda dari Yesus, padahal tanda itu sudah diberi dan sudah ada di tengah-tengah, bahkan di hadapan mereka. Namun, karena kebebalan hati dan ketertutupan mata jiwa, mereka tidak mampu menangkap dan memahami arti dan makna dari tanda kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Berhadapan dengan ketidakpekaan orang-orang ini, Yesus menjadi geregetan. Ini berarti sikap orang-orang itu sungguh sangat parah.

Saudara-saudari yang terkasih, kepekaan untuk menangkap dan memahami makna di balik tanda bukanlah sesuatu yang sekali jadi, melainkan suatu proses terus-menerus yang membutuhkan latihan. Seorang anak atau pelajar, misalnya, perlu dilatih dan dibiasakan menulis refleksi setiap hari untuk belajar menyadari kehadiran Tuhan dan menangkap kehendak-Nya dalam peristiwa hidup sehari-hari. Sekali lagi, kepekaan membutuhkan proses latihan.

Kita pun perlu untuk belajar dan bertekun dalam proses latihan dan pembiasaan ini, yakni membiasakan diri untuk melihat segala sesuatu bukan hanya dengan mata fisik, melainkan juga dengan mata hati dan batin kita, agar mampu menembus makna yang terdalam dari apa yang terlihat di sekitar kita: Apa makna dari peristiwa ini? Tuhan hendak berbicara apa dengannya? Apa yang menjadi kehendak dan rencana Tuhan di balik peristiwa-peristiwa nyata dalam kehidupan kita?” Mari kita belajar menjadi orang yang peka akan tanda-tanda dari surga dalam setiap peristiwa kehidupan sehari-hari.