Kemampuan untuk Mendengarkan

Senin, 16 Agustus 2021 – Hari Biasa Pekan XX

67

Matius 19:16-22

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

***

Saat hendak masuk novisiat untuk memulai proses formasi dalam Serikat Jesus, saya menerima panduan mengenai barang apa saja yang perlu saya bawa, yakni baju dua helai, celana panjang dua helai, kaus oblong dua helai, sapu tangan dua helai, kaus kaki dua helai, dan seterusnya. Semuanya itu muat dimasukkan dalam satu tas, dan tas yang biasa saya bawa untuk camping itulah satu-satunya barang yang saya jinjing ketika masuk novisiat.

Ternyata tidak hanya sampai di situ. Pada bulan pertama, romo pembimbing meminta kami untuk meninggalkan semua hal yang tidak perlu. Real break, begitu ia menegaskan. Pada saat itu, saya membuat aksi real break dengan membakar semua foto yang saya bawa dengan perasaan sukacita karena mau mewujudkan sikap lepas bebas, tetapi juga dengan perasaan sedih karena harus meninggalkan semua kenangan indah.

Dalam hidup ini, adakalanya kita perlu meninggalkan banyak hal agar bisa melangkah maju. Bahkan dalam ibadat pemberkatan perkawinan, salah satu bacaan Kitab Suci yang sering dikutip adalah kitab Kejadian, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya” (Kej. 2:24). Pasangan pengantin meninggalkan orang tua mereka dalam rangka membangun keluarga sendiri.

Demikianlah, untuk memperoleh hal yang sungguh berharga, kita kadang perlu meninggalkan hal lain yang tampaknya berharga. Saat saya menyusun skripsi, misalnya. Pada suatu waktu, saya pernah terlambat menyelesaikan target tertentu karena sibuk dalam pelayanan di Gereja. Pembimbing skripsi lantas memberi arahan agar saya fokus pada prioritas yang harus saya selesaikan. Dengan nada tegas, beliau berkata, “Godaan dalam melakukan perbuatan baik tidak datang dari perbuatan jahat, tetapi dari perbuatan baik yang lain, sehingga kamu seolah-olah mendapatkan pembenaran.”

Karena itu, sesuatu yang berharga bisa juga berkenaan dengan urgensi, nilai, atau martabatnya. Pemuda kaya dalam bacaan Injil hari ini memiliki strata nilai, di mana harta – bisa dibaca sebagai kekayaan, kepandaian, kehormatan, atau ego – menjadi yang utama. Mengikuti Yesus baginya barangkali adalah perkara nomor sekian.

Selain itu, kita sering kali perlu mendengarkan suara dari pihak yang berwenang. Dalam pengalaman saya di atas, pihak tersebut adalah pembimbing skripsi, yang memberi saya nasihat agar mengutamakan penyelesaian skripsi. Otoritas di atas kita bisa membantu kita untuk melihat secara tajam strata nilai, juga urutan urgensinya. Dalam kasus yang disajikan oleh bacaan Injil hari ini, bukan berarti harta tidak penting. Namun, bila harta membuat orang jauh dari Tuhan, hal itu perlu diwaspadai.

Melalui pengalaman itu, saya mengerti pentingnya menaati pemimpin-pemimpin yang memberikan tuntunan benar. Dalam masa pandemi Covid-19 ini, umat Katolik yang terbiasa taat pada otoritas memiliki keunggulan karakter untuk mengikuti apa yang menjadi ketentuan pemerintah. Tuntunan yang benar dari otoritas membantu kita untuk mengonfirmasi pilihan-pilihan kita, agar kita tidak menunjuk faktor lain sebagai alasan pembenaran atas ketidakmampuan kita menjalankan hal yang utama.