Semak Duri Menjadi Raja

Rabu, 18 Agustus 2021 – Hari Biasa Pekan XX

74

Hakim-hakim 9:6-15

Kemudian berkumpullah seluruh warga kota Sikhem dan seluruh Bet-Milo; mereka pergi menobatkan Abimelekh menjadi raja dekat pohon tarbantin di tugu peringatan yang di Sikhem.

Setelah hal itu dikabarkan kepada Yotam, pergilah ia ke gunung Gerizim dan berdiri di atasnya, lalu berserulah ia dengan suara nyaring kepada mereka: “Dengarkanlah aku, kamu warga kota Sikhem, maka Allah akan mendengarkan kamu juga. Sekali peristiwa pohon-pohon pergi mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun: Jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon ara: Marilah, jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon ara itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan manisanku dan buah-buahku yang baik, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon anggur: Marilah, jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata segala pohon itu kepada semak duri: Marilah, jadilah raja atas kami! Jawab semak duri itu kepada pohon-pohon itu: Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di gunung Libanon.”

***

Bukan hanya dalam Injil, dalam Perjanjian Lama pun kita dapat menjumpai perumpamaan. Dikisahkan dalam bacaan pertama hari ini, pohon-pohon mengadakan pertemuan. Ada pohon zaitun, pohon ara, dan pohon anggur. Masing-masing memiliki keunggulan. Pohon zaitun dikenal karena buahnya, juga karena minyak darinya yang sangat terkenal. Pohon ara dikenal karena buahnya yang manis dan digemari oleh masyarakat. Nama besar pohon anggur tidak diragukan lagi. Buahnya segar dan lezat, bisa juga diperas untuk dijadikan minuman.

Namun, ketika ditawarkan kepada mereka untuk menjadi raja, ketiga pohon itu menolaknya. Mereka beralasan bahwa menjadi raja akan menghilangkan identitas mereka masing-masing. Karena itu, tawaran kemudian diberikan kepada semak duri, tanaman tidak berguna yang sering menjadi pengganggu karena durinya. Satu-satunya yang barangkali bermanfaat dari tanaman ini adalah bisa dibakar untuk menjadi penghangat di musim dingin. Semak duri menerima tawaran itu dengan penuh antusias. Akibatnya, bencana pun terjadi. Sesuai dengan kualitas karakter semak duri, belum-belum ia sudah menebarkan ancaman dalam keangkuhan.

Perumpamaan yang dikisahkan oleh Yotam, anak bungsu Gideon ini menggambarkan situasi politik bangsa Israel. Yang dimaksud sebagai semak duri dalam perumpamaan ini tidak lain adalah Abimelekh. Abimelekh dan Yotam bersaudara, sama-sama anak Gideon, tetapi dari istri yang berbeda. Abimelekh dikatakan anak dari seorang perempuan Sikhem, gundik Gideon, sehingga terpinggirkan. Abimelekh bernafsu menjadi raja, padahal tidak memenuhi kriteria untuk itu. Ia bukan prajurit hebat, bukan pahlawan, dan bukan hakim. Yang menonjol dari dirinya justru sifatnya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Ia berkampanye dengan menggunakan sentimen etnis sebagai pribumi, asli berasal dari Sikhem. Ia membujuk penduduk Sikhem agar mendukungnya menjadi raja. Rakyat Sikhem terprovokasi oleh kampanye hitam tersebut. Abimelekh lantas membantai tujuh puluh saudaranya dalam rangka memuluskan rencananya, dan setelah itu penduduk Sikhem menobatkannya menjadi raja.

Setelah berhasil menjadi raja, Abimelekh tentu saja tidak berprestasi. Penduduk Sikhem sendiri pada akhirnya apatis terhadapnya, bahkan tidak mendukungnya lagi. Bagaimana tidak, Abimelekh malah berbalik hendak membantai mereka. Inilah akibatnya kalau tidak tulus dan gampang terprovokasi oleh sentimen etnis.

Kita bisa belajar dari peristiwa ini. Orang-orang yang memiliki kehendak baik dan berkarakter baik harus berani tampil dan terlibat dalam tanggung jawab untuk mengurus negeri. Bila tidak, yang akan tampil adalah orang-orang bermasalah dan tidak bertanggung jawab.