Percaya

Senin, 15 Agustus 2022 – Hari Biasa Pekan XX

43

Matius 19:16-22

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

***

Saya pernah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Dikatakan bahwa pengalaman religius manusia memiliki beberapa tahap penting yang mesti diketahui. Yang pertama adalah tahap tidak mengenal, sehingga akibatnya tidak percaya. Yang kedua adalah tahap mengenal. Yang ketiga adalah tahap percaya. Menariknya, tahap yang terakhir, yakni percaya, ada beberapa jenis: Percaya secara subjektif, percaya baik secara subjektif maupun secara objektif, serta percaya sepenuhnya secara objektif.

Tahap pertama dan kedua kiranya tidak sulit untuk dimengerti. Berbeda dengan itu, tahap ketiga rasanya patut kita refleksikan secara khusus dalam hubungannya dengan bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini.

Percaya secara subjektif berarti subjek dari iman itu masih diri kita sendiri. Itu bisa kita lihat dalam kecenderungan manusiawi kita dalam beriman. Misalnya, kita mendefinisikan Tuhan masih dalam taraf kesesuaiannya dengan pikiran, kesanggupan, kekuatan, dan selera kita. Tuhan itu baik ketika doa kita dikabulkan atau ketika hidup kita baik-baik saja. Sebaliknya, ketika hidup kita penuh dengan masalah, penderitaan, kesulitan, dan pergolakan, kita mulai meragukan kebaikan-Nya. Kita mulai berkata bahwa Tuhah tidak peduli dan tidak mencintai kita lagi.

Percaya baik secara subjektif maupun secara objektif merupakan perjuangan kita semua dalam beriman sepanjang penziarahan kita di dunia ini. Ini merupakan pertemuan antara subjektivitas kemanusiaan kita dan objektivitas keilahian Tuhan. Sering kali pada titik ini terjadi dialog, juga tawar-menawar dengan Tuhan. Barangkali ada hal di dalam diri kita, yakni kemauan dan keinginan kita, yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Itu semua lalu kita hadapkan kepada Tuhan.

Orang yang percaya secara objektif berarti sepenuhnya bersatu dengan Tuhan dalam seluruh kebenaran yang mutlak. Itulah yang dialami oleh orang-orang kudus dalam jalan-jalan kesempurnaan yang mereka tempuh, sampai-sampai mengalami ekstasi dalam cinta yang sangat mendalam akan Tuhan.

Lalu, ada di tahap mana pemuda kaya yang datang kepada Yesus dalam bacaan Injil hari ini? Bagaimana dengan kita sendiri? Ada di tahap mana kita masing-masing dalam mengimani dan mengikuti Tuhan kita? Semakin subjektif kita dalam beriman, semakin tampak segala keterbatasan dan kedangkalan kita. Sebaliknya, semakin objektif kita dalam beriman, semakin tampak segala kekayaan dan kedalaman makna hidup kita.

“Yesus, Engkaulah pusat kehidupan kami. Kami percaya kepada-Mu.”