Allah Terus Bekerja

Rabu, 22 Maret 2023 – Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

107

Yohanes 5:17-30

Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.”

***

Mukjizat penyembuhan di kolam Betesda pada hari Sabat menimbulkan konflik antara orang-orang Farisi dan Yesus. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memberikan alasan mengapa Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat. Mukjizat penyembuhan itu dilakukan Yesus karena Allah Bapa yang mengutus-Nya juga bekerja sampai sekarang. Allah Bapa tidak pernah berhenti bekerja. Jika Allah berhenti bekerja, tidak ada kehidupan di dunia ini. Allah terus bekerja demi keselamatan umat-Nya. Orang Yahudi menghormati hari Sabat dengan tidak bekerja, tetapi Yesus tetap bekerja pada hari Sabat demi keselamatan manusia. Dengan cara demikian, apakah Yesus berarti tidak menghormati hari Sabat? Yesus justru menghormati hari Sabat dengan menyembuhkan dan menyelamatkan orang yang menderita!

Tindakan Yesus itu membuat orang-orang Farisi benci dan berusaha untuk membunuh-Nya. Alasan lain yang membuat mereka semakin membenci-Nya adalah karena Ia menyebut Allah sebagai Bapa-Nya. Di sini, orang-orang Farisi menilai Yesus menghujat Allah. Yesus menjelaskan lagi bahwa apa yang dikerjakan-Nya bersumber dari Allah Bapa. Anak mengerjakan apa yang dilihat dan didengar dari Bapa. Anak tidak melakukan sesuatu pun dari diri-Nya sendiri. Dengan itu, Yesus menegaskan bahwa Dia dan Bapa adalah satu.

Yesus menyebutkan lagi dua pekerjaan lain, yakni menghidupkan dan menghakimi. Contoh pekerjaan Yesus yang menghidupkan adalah ketika diri-Nya menyembuhkan anak pegawai istana di Kapernaum dan orang lumpuh di kolam Betesda. Sementara itu, tugas sebagai Hakim akan dijalankan Yesus pada akhir zaman, di mana orang benar akan bangkit dan masuk surga, sedangkan orang jahat akan dihukum. Ini menunjukkan bahwa Allah senantiasa bertindak dengan adil.

Tuhan tidak berhenti bekerja, maka kita juga harus terus bekerja untuk membangun hidup yang lebih baik dan bermartabat. Hidup yang sejahtera, baik jasmani maupun rohani, tentu menjadi dambaan setiap orang. Karena itu, baiklah kita terus bekerja dan berdoa untuk meraih impian dan masa depan yang cerah. Kita tidak boleh membenci sesama, tetapi harus mengasihinya, sebab kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama kita.