Berani Mati untuk Bertumbuh dan Berbuah

Senin, 10 Agustus 2026 – Pesta Santo Laurensius

3

Yohanes 12:24-26

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

***

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pernah melihat biji gandum? Seperti apakah itu? Biji gandum itu keras, kecil, dan kering. Jika kita menyimpan biji gandum dalam stoples, ia akan aman, tidak akan membusuk, tidak akan terkena kotoran, dan bentuknya juga akan tetap seperti itu selama bertahun-tahun. Namun, biji itu akan tetap sendirian. Ia tidak akan pernah menjadi apa-apa. Hari ini, Yesus menggunakan analogi pertanian secara radikal untuk menantang logika dunia: “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”

Ada tiga hal menarik yang bisa menjadi bahan permenungan bagi kita hari ini. Pertama, mati bukanlah kematian, melainkan tranformasi. Dunia mengajarkan kita untuk mempertahankan, menumpuk, dan melindungi ego kita setinggi-tingginya. Namun, Yesus justru mengajarkan prinsip yang berlawanan: Agar bisa benar-benar hidup dan berdampak, kita harus berani mati. Apa artinya mati?

Bagi Yesus, mati bukanlah kematian fisik, melainkan keberanian untuk melenyapkan “cangkang kulit yang keras” kehidupan kita. Mati terhadap ego berarti keberanian untuk mengalahkan gengsi demi kedamaian. Mati terhadap kenyamanan diri berarti berani mengorbankan waktu, tenaga, dan perasaan demi melayani sesama. Mati terhadap amarah dan dendam berarti berani memaafkan meskipun rasanya sakit. Biji gandum yang terkubur di dalam tanah akan merasakan kegelapan, kegelapan, dan rasa sakit karena kulitnya kemudian pecah. Namun, tanpa pecahnya kulit, kehidupan di dalamnya tidak akan pernah keluar. Beranikah kita keluar dari “cangkang kulit yang keras” kehidupan kita?

Kedua, mengapa orang sulit untuk berbuah? Banyak dari kita sering kali merasa bahwa hidup ini terasa hampa, stagnan, dan tidak berdampak. Mengapa hal ini terjadi? Karena kita ingin berbuah, tetapi menolak untuk “mati”. Kita ingin hidup pernikahan yang bahagia, tetapi tidak mau “mati” terhadap egoisme masing-masing. Kita ingin hidup komunitas yang penuh kasih, tetapi tidak mau “mati” terhadap sikap menghakimi dan menang sendiri. Kita ingin menjadi murid Kristus yang sejati, tetapi tidak mau mengorbankan zona kenyamanan kita. Perumpamaan hari ini mengingatkan kita semua bahwa tanpa tanah yang gelap dan proses pecahnya biji, tidak akan ada tunas baru. Tanpa pengorbanan, tidak akan ada kebangkitan.

Ketiga, meneladan Sang Biji Gandum Sejati. Yesus tidak hanya berteori, tetapi Dia menjalankan apa yang Ia katakan. Dialah Sang Biji Gandum Sejati. Ia rela jatuh ke tanah, disalibkan, dan mati. Melalui kematian-Nya di kayu salib, tunas keselamatan merekah dan menghasilkan buah berlimpah, yakni kehidupan kekal bagi kita semua.

Hari ini, bersama dengan Gereja, kita merayakan Pesta Santo Laurensius, diakon dan martir. Yesus berkata, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku.” Dengan ini, Ia mengundang kita untuk memiliki keberanian yang sama. Mari kita renungkan: Bagian mana dalam hidup kita yang perlu “mati” hari ini, agar kasih Kristus bisa tumbuh dan berbuah manis bagi orang-orang di sekitar kita?