Jangan Ikut Menjadi Gelap

Jumat, 28 Agustus 2026 – Peringatan Wajib Santo Agustinus

5

Matius 25:1-13

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

***

Saudara-saudari terkasih, perumpamaan tentang sepuluh gadis berbicara tentang satu hal yang sederhana tetapi penting, yakni berjaga-jaga. Menariknya, kelima gadis bijaksana dan kelima gadis bodoh sama-sama membawa pelita, sama-sama menunggu mempelai, bahkan sama-sama tertidur ketika mempelai belum juga datang. Perbedaannya bukan pada apakah mereka menunggu, melainkan pada bagaimana mereka mempersiapkan diri selama menunggu. Mempelai datang terlambat. Ada ketidakpastian, tetapi justru dalam ketidakpastian itulah kualitas seseorang terlihat.

Bukankah situasi seperti ini juga kita alami sebagai bangsa? Kita hidup dalam masa yang tidak selalu mudah ditebak. Ada berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, informasi yang simpang siur, dan banyak hal yang membuat orang mudah cemas, kecewa, bahkan sinis. Dalam keadaan seperti ini, kita mudah kehilangan pelita: Kehilangan harapan, kejujuran, akal sehat, dan kepedulian kepada sesama.

Karena itu, berjaga-jaga tidak berarti hidup dalam ketakutan atau kecurigaan. Berjaga-jaga berarti memelihara kualitas batin, agar ketika keadaan menjadi gelap, kita tidak ikut menjadi gelap. Minyak dalam pelita itu dapat kita bayangkan sebagai iman, integritas, akal sehat, kasih, dan harapan yang terus kita pelihara setiap hari. Ketika krisis datang, yang keluar dari diri kita biasanya adalah apa yang selama ini kita simpan di dalam hati.

Orang beriman tidak dipanggil untuk menjadi orang yang paling panik, paling sinis, atau paling keras. Kita dipanggil untuk tetap jernih, kritis tanpa membenci, berani menyuarakan kebenaran tanpa kehilangan kasih, dan tetap berbuat baik meskipun keadaan belum berubah. Kita mungkin tidak tahu kapan “mempelai” itu datang dan kapan situasi akan menjadi lebih baik. Akan tetapi, kita tahu bagaimana harus hidup hari ini. Jangan menunggu keadaan menjadi terang untuk menyalakan pelita. Justru karena dunia sedang gelap, pelita kita sangat dibutuhkan.