
Lukas 4:16-21
Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”
***
Bacaan Injil dalam perayaan Misa Krisma hari ini mengisahkan awal pelayanan Yesus di Galilea. Setelah dibaptis dan dicobai di padang gurun, Yesus kembali ke daerah asal-Nya, Nazaret. Pada hari Sabat, Ia masuk ke rumah ibadat dan membaca Kitab Suci di hadapan jemaat. Kebiasaan membaca Kitab Suci dalam sinagoge merupakan praktik umum dalam kehidupan agama Yahudi.
Dalam kesempatan itu, Yesus membaca dari Kitab Yesaya, khususnya bagian yang berbicara tentang seorang utusan yang diurapi Roh Tuhan untuk membawa kabar baik kepada orang miskin, pembebasan bagi para tawanan, dan penglihatan bagi orang buta. Orang Yahudi saat itu menghubungkan nubuat ini dengan harapan akan datangnya Mesias yang akan memulihkan Israel dari penindasan dan ketidakadilan. Situasi sosial politik Palestina pada masa itu memang ditandai oleh kemiskinan, ketimpangan sosial, dan dominasi kekuasaan Romawi. Karena itu, harapan akan pembebasan menjadi kerinduan yang kuat dalam masyarakat.
Setelah membaca teks tersebut, Yesus membuat pernyataan yang mengejutkan, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Dengan kata lain, Yesus menafsirkan bahwa nubuat itu sedang digenapi dalam diri dan karya-Nya.
Perikop ini sering dipahami sebagai pernyataan mengenai misi Yesus. Pertama, Yesus menegaskan bahwa pelayanan-Nya berakar pada karya Roh Kudus. Ia berkata, “Roh Tuhan ada pada-Ku.” Artinya, misi Yesus bukan sekadar usaha manusiawi, melainkan karya Allah yang sedang bertindak dalam sejarah.
Kedua, fokus misi Yesus jelas, yakni orang miskin, para tawanan, orang buta, dan mereka yang tertindas. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah hadir sebagai kabar baik bagi mereka yang berada di pinggiran kehidupan. Dengan demikian, keselamatan yang dibawa Yesus tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga menyentuh realitas sosial manusia.
Ketiga, ungkapan “tahun rahmat Tuhan” berakar pada konsep tahun Yobel dalam tradisi Israel, yakni masa pemulihan di mana utang dihapuskan, tanah dikembalikan, dan orang-orang yang tertindas dibebaskan. Dengan kata lain, Yesus menghadirkan suatu zaman baru, di mana Allah memulihkan martabat manusia.
Sabda Tuhan ini mengajak kita untuk memahami iman bukan hanya sebagai relasi pribadi dengan Tuhan, melainkan juga sebagai panggilan untuk menghadirkan kabar baik bagi sesama. Kita dipanggil untuk peka terhadap mereka yang miskin baik jasmani maupun rohani, mereka yang terluka batin, dan mereka yang merasa tersisih dalam masyarakat. Mengikuti Yesus berarti menghadirkan harapan dan pemulihan bagi mereka.
Injil hari ini menginspirasi kita untuk ambil bagian dalam misi Yesus melalui tindakan sederhana seperti menolong, menghibur, dan membela yang lemah. Setiap kali kita membawa harapan, keadilan, dan kasih kepada sesama, tahun rahmat Tuhan makin menjadi nyata di tengah dunia.










