Makam Kosong

Selasa, 7 April 2026 – Hari Selasa dalam Oktaf Paskah

13

Yohanes 20:11-18

Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

***

Hari masih gelap ketika Maria Magdalena menemukan bahwa makam Yesus telah kosong. Pada saat itulah, ia dijumpai oleh dua malaikat, dan bahkan oleh Yesus sendiri yang telah dibangkitkan. Ia pun lalu menceritakan pengalaman itu kepada murid-murid Yesus. Namun, para murid rupanya sulit untuk memercayai kisahnya. Pada masa itu, kesaksian seorang perempuan, apalagi Maria Magdalena, dipandang tidak bisa dipercaya. Perempuan dipandang tidak memiliki kredibilitas untuk bersaksi karena dianggap tidak bisa membedakan ilusi, mimpi, fiksi, dan kenyataan yang terjadi.

Makam kosong ternyata tidak serta-merta membuat para murid percaya, padahal mereka telah diajar berulang kali tentang kebangkitan oleh Yesus. Dari sini, kita diajak untuk merasakan dan mengalami segala pergumulan yang menantang intuisi rohani kita. Kita diajak untuk sabar dalam mengumpulkan bukti-bukti, kritis dan tajam dalam melihat setiap fakta, serta bijak dalam melihat setiap peristiwa. Tidak semua hal dituliskan secara mendetail dalam Kitab Suci. Hal itu menantang kemampuan kontemplasi kita untuk pandai merangkai segala peristiwa dan menafsir kisah dengan benar.

Maria Magdalena menjadi teladan kita. Dia yang termasuk bagian dari kelompok inferior di kalangan masyarakat Yahudi percaya akan kebangkitan Kristus, tanpa menuntut diberikan tanda ini dan itu, misalnya saja agar ditunjukkan terlebih dahulu bekas luka-luka akibat penyaliban. Tidak salah bahwa Tuhan menampakkan diri kepadanya, bukan kepada yang lain. Yesus dengan ini mengubah Maria Magdalena dari seorang yang tidak diperhitungkan menjadi tokoh yang layak didengarkan kesaksiannya.

Sampai zaman sekarang, masih banyak ditemukan di berbagai tempat dan peristiwa, bahwa kesaksian perempuan dianggap omong kosong. Akan tetapi, dua ribu tahun yang lalu, Maria Magdalena, seorang mantan perempuan pendosa, dipakai Yesus untuk menjadi saksi kunci pertama kebangkitan-Nya. Yesus memberdayakan kaum perempuan. Tuhan selalu memilih orang yang dipandang rendah oleh manusia untuk ditinggikan.

Yesus menggunakan Maria Magdalena, seorang perempuan yang tidak memiliki suara di kalangan masyarakat Yahudi, untuk bersaksi. Ia menjadi saksi kunci peristiwa kebangkitan Yesus di tempat kejadian perkara. Dalam luapan sukacita, ia berkata kepada para murid, “Aku telah melihat Tuhan!” Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, “Bagaimana intuisi rohani kita memahami bahwa Yesus sungguh bangkit?”