Dosa dan Penyakit

Kamis, 2 Juli 2026 – Hari Biasa Pekan XIII

16

Matius 9:1-8

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” — lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –: “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang itu pun bangun lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.

***

Pada zaman Yesus, sakit dan penyakit umumnya dikaitkan dengan dosa. Orang jatuh sakit dipandang sebagai akibat dari dosa yang dilakukannya. Karena sakit dan penyakit merupakan akibat dari dosa, pengampunan menjadi solusi untuk penyembuhan dari penyakit. Namun, orang-orang pada zaman itu meyakini bahwa hanya Allah saja yang bisa mengampuni dosa manusia.

Karena itu, ketika Yesus berkata kepada seorang lumpuh bahwa dosanya sudah diampuni, Ia dianggap telah menghujat Allah. Para ahli Taurat memang hanya menuduhkan hal itu dalam hati mereka, namun Yesus mengetahuinya. Dari sini saja mereka seharusnya sadar bahwa Yesus pasti bukan manusia biasa, sebab hanya Allah yang bisa mengetahui isi hati manusia. Menanggapi tuduhan diam-diam itu, Yesus lalu mengajukan pertanyaan kepada mereka, “Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?”

Kalau hanya berkata-kata saja, keduanya sama-sama mudah. Anak kecil pun bisa mengatakannya. Permasalahan di sini bukan sekadar berkata-kata, melainkan dampak yang tampak secara nyata setelah perkataan tersebut diungkapkan. Dalam hal ini, mengampuni dosa lebih mudah daripada menyuruh orang itu bangun dan berjalan. Sebab, yang pertama tidak memiliki bukti fisik yang kelihatan, sementara yang kedua hasilnya bisa disaksikan oleh semua orang secara langsung.

Karena itu, untuk menunjukkan bahwa Ia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa dan menyembuhkan orang sakit, Yesus lalu memerintahkan si lumpuh untuk bangun. Semua mata saat itu menyaksikan bahwa setelah Yesus berkata demikian, orang lumpuh itu seketika sembuh: Ia bangun, mengangkat tempat tidurnya, lalu berjalan pulang ke rumahnya. Peristiwa ini membuat orang-orang yang melihatnya menjadi takut dan memuliakan Allah.