Tak Termakan Fitnah

Selasa, 7 Juli 2026 – Hari Biasa Pekan XIV

12

Matius 9:32-38

Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan telantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

***

Setelah Yesus membuat mukjizat-mukjizat penyembuhan, orang Farisi malah melontarkan tuduhan kepada-Nya. Mereka berkata, “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.”

Secara pribadi terkadang saya tidak bisa mengerti mengapa orang bisa begitu kejam menuduhkan yang jahat kepada orang lain yang jelas-jelas secara faktual berbuat kebaikan. Jika saya yang mengalaminya, bisa jadi saya akan menangis sampai mata menjadi bengkak, lalu enggan berbuat baik lagi. Saya pasti akan merasa sakit dan kecewa karena kebaikan saya ternyata dibalas dengan kecurigaan.

Namun, Yesus menunjukkan sikap yang berbeda. Ia tidak membela diri, tidak pula menjawab tuduhan itu. Yang dilakukan Yesus adalah pergi untuk terus melanjutkan pewartaan-Nya. Ia pun mengelilingi banyak kota dan desa untuk menyembuhkan orang-orang sakit lainnya. Fitnah tidak mampu mengalahkan Yesus.

Ketika kita berbuat baik, tidak semua orang bisa memahami niat kita. Ada yang salah paham, ada yang merasa iri, ada pula yang malah menyebarkan cerita yang tidak benar. Tanggapan negatif itu tidak jarang melumpuhkan kita. Karena merasa nama baik kita tercemar dan hati kita terluka, kita tidak mau lagi berbuat baik kepada orang lain. Kita memilih diam dan tidak berbuat apa-apa, padahal ada situasi yang membutuhkan pertolongan kita.

Fitnah dapat merusak nama, tetapi tidak dapat merusak kebenaran. Kebohongan mungkin berlari cepat, tetapi kebenaran bertahan lebih lama. Jangan biarkan fitnah mematikan panggilan kita untuk mengasihi dan melayani. Karena itu, jika hati kita terluka akibat fitnah, mari kita datang kepada Yesus dan belajar dari-Nya. Serahkanlah semuanya kepada-Nya. Jangan biarkan kepahitan bertumbuh. Hendaknya hati kita menjadi hati yang selalu peka dan tergerak untuk berbelaskasihan kepada mereka yang membutuhkan. Yesus meminta para murid untuk berdoa bagi bertambahnya manusia yang memiliki hati seperti hati-Nya. Mari kita mendoakannya juga.