Jadilah Pembuka, Bukan Penutup Pintu Surga

Sabtu, 15 Agustus 2026 – Hari Biasa Pekan XIX

12

Matius 19:13-15

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.

***

Saudara-saudari yang terkasih, sebuah pemandangan menarik dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini. Anak-anak kecil dibawa oleh orang-orang kepada Yesus supaya mereka ditumpangi tangan dan didoakan. Namun, apa yang dilakukan oleh para murid? Mereka memarahi orang-orang itu. Ironisnya, para murid yang adalah orang-orang yang paling dekat dengan Yesus justru menjadi penghalang antara manusia dan Sang Juru Selamat. Dalam benak para murid, anak-anak mungkin dianggap mengganggu, tidak penting, belum paham agama, atau hanya menghabiskan waktu guru mereka. Tanpa sadar, para murid sedang memosisikan diri sebagai penutup pintu akses menuju rahmat Tuhan.

Bagaimana reaksi Yesus? Dengan tegas Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.” Yesus tidak pernah melihat anak-anak sebagai beban. Yesus melihat mereka sebagai pemilik Kerajaan Surga karena kemurnian hati, kepolosan, dan ketergantungan penuh mereka kepada orang tua, seperti seorang beriman yang menggantungkan hidup sepenuhnya kepada Bapa di surga.

Melalui peristiwa ini, Yesus membalikkan cara pandang kita: Tugas murid Yesus bukanlah seperti penjaga yang menyeleksi dan menyaring siapa saja yang layak mendatangi Tuhan, melainkan melapangkan jalan bagi siapa saja yang mau berjumpa dengan-Nya.

Menjadi bahan refleksi kita hari ini: Apakah kita selama ini menjadi pembuka jalan atau justru penutup pintu bagi orang lain untuk mengenal Tuhan? Kita menjadi penutup pintu surga ketika berprasangka buruk dan menghakimi sesama yang ingin bertobat, ketika kita sebagai orang tua malas memberi teladan iman dan malahan memadamkan semangat anak-anak kita untuk berdoa, ketika kita dalam komunitas atau tempat kerja bersikap eksklusif, kaku, dan tidak ramah kepada orang baru. Jika kita berlaku demikian, kita sedang bertindak seperti para murid dalam perikop ini: Kita menutup pintu surga bagi sesama.

Yesus memanggil kita untuk berubah. Semoga kita mampu menjadi pribadi yang ramah, inklusif, dan penuh kasih. Semoga kita berani menjadi pembuka pintu surga melalui tutur kata kita yang menyejukkan, senyuman kita yang merangkul, dan hidup kita yang memancarkan kebaikan. Semoga kita mampu menjadikan hidup kita ini sebagai jembatan yang membawa orang lain, terutama mereka yang lemah, kecil, dan tersingkir, agar dapat mengalami jamahan dan kehangatan kasih Tuhan.