Tuhan Bertindak: Merengkuh

Senin, 21 September 2026 – Pesta Santo Matius

3

Matius 9:9-13

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

***

“Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Manusia punya keunikan yang sulit untuk dipahami: Gemar menyingkirkan mereka yang berbeda. Kita dihadirkan di dunia dalam perbedaan. Perbedaan justru menjadi ciri khas manusia. Namun, ada keengganan dalam diri manusia untuk menerima orang lain, terlebih yang berbeda.

Tuhan memberi kita sebuah tantangan, yakni untuk menerima orang lain sebagai sesama. Manusia memang memiliki naluri untuk membuat pembedaan dan untuk menyingkirkan mereka yang berbeda. Akan tetapi, naluri tidak harus selalu diikuti. Naluri bisa salah. Tuntunan dari Tuhanlah yang perlu sungguh diperhatikan, sebab itulah jalan keselamatan.

Lahir dalam kelompok minoritas membuat saya merasakan apa artinya disingkirkan. Di negara yang punya cita-cita luhur Bhinneka Tunggal Ika dari para pendiri bangsa yang sungguh berwawasan luas, ternyata kita membawa sejarah gelap dengan adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas. Ketika budaya dimatikan dan akar dicerabut, kelompok minoritas akan kehilangan identitas dan membawa pengalaman luka yang mendalam.

Tuhan memahami penderitaan Matius, si pemungut cukai. Tuhan memahami penderitaan para pendosa. Kita harus jernih: Tuhan dengan tegas menegur para pendosa, tetapi Ia merengkuh mereka. Tuhan tidak menyingkirkan mereka. Tuhan ingin mengundang mereka pada keselamatan, sehingga mencintai mereka dengan penuh ketulusan hati.

Saya menulis refleksi ini pada tanggal 9 September 2026, menjelang peringatan 25 tahun tragedi WTC di New York, Amerika Serikat. Sambil berdoa bagi mereka yang sudah berpulang, dan mengenang betapa kepicikan pikiran dan hati membawa luka dan penderitaan yang begitu dalam, kita mohon rahmat Tuhan agar mampu merengkuh dan menjadikan orang lain sebagai sesama.