Sukacita Menemukan yang Hilang

Kamis, 5 November 2026 – Hari Biasa Pekan XXXI

8

Lukas 15:1-10

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”

***

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbicara tentang seekor domba yang hilang. Secara sederhana, kita mungkin mempertanyakan, “Mengapa harus repot mencari satu domba yang hilang, sementara masih ada sembilan puluh sembilan ekor yang lain?” Namun, justru di situlah kita menemukan hati Allah. Bagi Allah, seorang manusia tidak pernah dianggap tidak penting. Ketika seseorang tersesat, jatuh, atau menjauh, Allah tidak berkata, “Biarkan saja.” Ia mencari, mendekati, dan membawanya pulang. Dunia sering berpikir berdasarkan jumlah dan keuntungan: Yang penting mayoritas, yang penting target tercapai, yang penting semuanya berjalan baik. Akan tetapi, Allah melihat pribadi. Seorang manusia berharga di mata-Nya.

Masalahnya, kita sering mempunyai cara pandang yang berbeda mengenai pertobatan. Kita menganggap mengakui kesalahan sebagai sesuatu yang memalukan. Kita sulit mengatakan, “Saya salah,” apalagi meminta maaf dan memperbaiki kesalahan. Kadang kita lebih mudah menjelaskan kesalahan daripada mengakuinya, misalnya dengan berkata, “Saya melakukan ini karena dia terlebih dahulu melakukan itu.” Kita mencari alasan, membela diri, bahkan menyalahkan orang lain. Hambatan terbesar untuk bertobat sering kali bukan karena kita tidak tahu bahwa kita salah, melainkan karena kita terlalu gengsi untuk mengakuinya. Yesus menunjukkan bahwa pertobatan bukanlah penghinaan terhadap diri kita. Pertobatan adalah keberanian untuk mengatakan, “Saya ingin pulang.”

Yang sangat indah dari perumpamaan ini adalah sikap Allah ketika menemukan yang hilang. Setelah menemukan domba itu, sang gembala tidak lalu memarahinya dan berkata, “Mengapa kamu bodoh sampai tersesat?” Ia justru meletakkan domba itu di atas bahunya dan bersukacita. Inilah wajah Allah ketika kita bertobat. Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk menerima kita. Ia menunggu hati yang mau kembali. Karena itu, Sakramen Tobat bukan sekadar tempat untuk mengakui kesalahan, melainkan juga tempat untuk mengalami bahwa belas kasihan Allah lebih besar daripada dosa kita. Kalau kita sendiri sudah mengalami pengampunan Allah, kita pun dipanggil untuk memiliki hati yang sama terhadap orang yang bersalah kepada kita. Jangan terus mengungkit-ungkit, mempermalukan, atau memberi cap, tetapi bantulah dia untuk bangkit dan kembali.

Hal ini sangat aktual dalam kehidupan keluarga, komunitas, dan masyarakat kita. Betapa banyak hubungan yang rusak bukan karena kesalahan besar, melainkan karena tidak ada yang mau lebih dahulu meminta maaf. Betapa banyak persahabatan yang rusak karena masing-masing mempertahankan harga diri. Betapa banyak orang yang jatuh makin dalam karena ketika mereka membutuhkan kesempatan kedua, yang mereka terima justru penghakiman. Menjadi murid Kristus berarti belajar menjadi gembala yang baik: Mencari yang tersesat, bukan menghakiminya; mengangkat yang jatuh, bukan menertawakannya; membuka pintu bagi yang ingin kembali, bukan malah mengingat terus kesalahannya.

Yesus berkata bahwa ada sukacita di surga atas satu orang berdosa yang bertobat. Pertobatan bukan kabar buruk bagi Allah; pertobatan adalah kabar sukacita. Mungkin kita adalah domba yang hilang, dan Tuhan sedang mencari kita. Mungkin pula kita adalah orang yang terluka karena kesalahan orang lain, dan Tuhan sedang mengajar kita untuk mengampuni. Jangan takut untuk pulang kepada Tuhan, dan jangan menghalangi orang lain untuk juga pulang kepada-Nya. Beranilah mengakui kesalahan, beranilah meminta maaf, beranilah mengampuni, dan berilah kesempatan untuk memulai kembali. Ketika satu orang kembali kepada Allah, surga bersukacita, dan semestinya hati kita pun ikut bersukacita.