Pengaturan yang Bijaksana

Jumat, 6 November 2026 – Hari Biasa Pekan XXXI

14

Lukas 16:1-8

Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah utangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat utangmu, duduklah dan buat surat utang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah utangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat utangmu, buatlah surat utang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”

***

Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur memang agak membingungkan. Mengapa Yesus seolah-olah memuji orang yang melakukan kesalahan? Sebenarnya Yesus tidak memuji ketidakjujuran orang itu, tetapi memuji kecerdikannya dalam menghadapi masa depan. Bendahara itu sadar bahwa hidupnya sedang berubah, dan ia harus mempersiapkan diri. Di sinilah pertanyaan penting bagi kita: Kalau kita tahu bahwa hidup ini sementara, apa yang perlu kita persiapkan? Sering kali kita sangat serius mempersiapkan masa depan di dunia, seperti pendidikan, pekerjaan, rumah, dan kesehatan, tetapi kurang serius dalam mempersiapkan kehidupan kekal.

Bendahara itu akhirnya harus memberikan pertanggungjawaban. Hal yang sama berlaku bagi kita. Hidup ini bukan milik kita sepenuhnya. Waktu, kemampuan, harta, jabatan, kesempatan, bahkan keluarga adalah titipan Tuhan. Suatu hari kita akan ditanya, “Apa yang sudah kamu lakukan dengan semuanya itu?” Namun, pertanggungjawaban di hadapan Tuhan sebenarnya tidak hanya terjadi pada akhir hidup. Setiap hari adalah kesempatan bagi kita untuk mengevaluasi apakah kita sudah menggunakan waktu, tenaga, uang, kemampuan, dan kesempatan kita untuk melakukan kebaikan.

Kecerdikan bendahara itu dapat menjadi pesan bagi kita: Gunakan apa yang kita miliki untuk membangun relasi dan menghadirkan belas kasihan. Dalam kehidupan kita, harta dan kemampuan tidak seharusnya hanya dipakai untuk kepentingan diri sendiri. Ada orang yang membutuhkan waktu kita, perhatian kita, bantuan kita, bahkan sekadar sepatah kata yang menguatkan dari mulut kita. Kita dapat menjadi “bendahara belas kasihan” Tuhan ketika menggunakan apa yang kita punya untuk meringankan beban orang lain. Membantu orang miskin, memberi kesempatan kepada orang yang sedang jatuh, mengampuni kesalahan, mendampingi seseorang yang kehilangan harapan, dan membawa orang lain makin dekat kepada Tuhan adalah cara kita menggunakan kekayaan duniawi untuk menghasilkan buah-buah surgawi yang bernilai kekal.

Godaan terbesar bagi kita adalah memandang kehidupan di dunia ini sebagai tujuan terakhir. Kita mengejar kenyamanan, pengakuan, status, dan keamanan seakan-akan semuanya itu akan kita bawa selamanya, padahal tidak. Yang akan tinggal bukanlah jumlah uang di rekening, jabatan yang kita pegang, atau orang-orang yang mengenal kita. Yang akan tinggal adalah kasih yang kita berikan dan kebaikan yang kita tanamkan dalam kehidupan orang lain. Karena itu, pertanyaan bendahara, “Apa yang harus aku perbuat?”, seharusnya juga menjadi pertanyaan kita setiap pagi, “Hari ini, apa yang dapat saya lakukan dengan apa yang Tuhan percayakan kepada saya?”

Kita diajak bukan untuk menjadi orang cerdik demi menyelamatkan kepentingan diri sendiri, melainkan untuk menjadi pribadi yang bijaksana demi Kerajaan Allah. Jangan menunggu sampai hidup hampir berakhir baru kita bertanya apa yang sudah kita lakukan. Mulailah hari ini. Gunakan waktu kita untuk melayani, kemampuan kita untuk membangun, harta kita untuk berbagi, kata-kata kita untuk menguatkan, dan kehidupan kita untuk membawa orang lain makin dekat dengan Tuhan. Pada akhirnya, kita semua akan dimintai pertanggungjawaban. Ketika saat itu tiba, semoga Tuhan berkata kepada kita, “Engkau telah menggunakan apa yang Kupercayakan kepadamu dengan setia dan penuh kasih.”