Harta untuk Kasih

Sabtu, 7 November 2026 – Hari Biasa Pekan XXXI

32

Lukas 16:9-15

“Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.”

***

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita, yakni uang dan harta. Yesus berkata, “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur.” Perkataan ini jangan dipahami sebagai ajakan untuk mencari atau menggunakan uang dengan cara yang tidak benar. Yesus justru mengajak kita menyadari bahwa harta duniawi itu sifatnya sementara. Uang, rumah, kendaraan, jabatan, dan berbagai kepemilikan suatu hari nanti akan kita tinggalkan. Karena itu, persoalannya bukan pertama-tama berapa banyak yang kita punya, melainkan untuk apa kita menggunakannya. Harta dapat menjadi berkat ketika digunakan untuk melayani, tetapi dapat menjadi jebakan ketika kita mulai hidup hanya untuk memilikinya.

Kita hidup di dunia yang sangat kuat mendorong orang untuk memiliki lebih banyak. Iklan dan media sosial sering membuat kita membandingkan diri dengan orang lain: Siapa yang rumahnya lebih bagus, kendaraannya lebih baru, pekerjaannya lebih hebat, atau kehidupannya terlihat lebih berhasil. Akibatnya, tanpa sadar kita mulai mengukur kebahagiaan berdasarkan apa yang kita miliki. Yesus mengingatkan bahwa harta bukanlah tujuan hidup. Harta adalah alat. Ketika harta menjadi tujuan, kita diperbudak olehnya. Sebaliknya, ketika dijadikan sarana untuk berbuat baik, harta dapat menjadi jalan kasih. Karena itu, kekayaan jangan dilihat dari berapa banyak yang kita simpan, melainkan dari berapa banyak kebaikan yang kita lakukan melalui apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Yesus kemudian memberikan prinsip yang sangat sederhana, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” Kesetiaan ternyata dibentuk dari hal-hal kecil. Kejujuran dalam mengelola uang, tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita, menggunakan fasilitas dengan bertanggung jawab, tidak boros, berbagi dengan orang yang membutuhkan, dan tidak menggunakan harta untuk menyombongkan diri, semuanya merupakan latihan rohani. Tuhan tidak membutuhkan uang kita. Yang Ia kehendaki adalah agar kita bermurah hati, sebab melalui kemurahan hati, kita akan dibebaskan dari keterikatan-keterikatan duniawi. Orang yang tidak dapat dipercaya dalam perkara kecil akan sulit dipercaya pula dalam perkara yang lebih besar.

Karena itu, jangan bertanya, “Apa yang bisa saya beli dengan uang saya?”, tetapi bertanyalah, “Siapa yang bisa saya bantu dengan apa yang saya miliki?” Mungkin ada orang miskin yang membutuhkan makanan, seorang anak yang membutuhkan biaya pendidikan, teman yang sedang mengalami kesulitan, atau karya Gereja yang membutuhkan dukungan. Bahkan sekadar mentraktir seseorang, berbagi makanan, atau memberi derma merupakan bentuk kasih. Harta yang kita gunakan itu tidak hilang, tetapi berubah menjadi harta yang bernilai di hadapan Allah.

Yesus mengingatkan kita bahwa yang menentukan bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa setia kita menggunakan apa yang dipercayakan Tuhan. Suatu hari, semua yang kita miliki akan berhenti menjadi milik kita. Yang akan tinggal adalah kasih yang telah kita berikan. Karena itu, gunakanlah harta tanpa diperbudak olehnya; nikmatilah berkat tanpa melupakan mereka yang berkekurangan; milikilah sesuatu tanpa membiarkannya menguasai hati kita. Jangan biarkan uang menjadi tuan atas hidup kita. Jadikanlah uang sebagai pelayan kasih. Pada akhirnya, bukan berapa banyak harta yang kita kumpulkan yang akan menentukan kekayaan hidup kita, melainkan berapa banyak kasih yang telah kita bagikan.