Iman pada Pribadi dan Sabda Yesus

Senin, 12 Maret 2018 – Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

77

Yohanes 4:43-54

Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Maka setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu.

Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.” Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya. Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

***

Yesus melakukan tanda pertama di Kana (Yoh. 2:1-11). Ia kini kembali ke Kana dan membuat tanda lain di sana. Kisah tanda pertama berakhir dengan catatan tentang lemahnya iman orang Yahudi karena mereka hanya bersandar pada mukjizat (Yoh. 2:23-25). Kisah tanda kedua (lih. Yoh. 4:54) dibuka dengan catatan serupa. Orang Galilea menyambut Yesus karena telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya (Yoh. 4:45, 48).

Yesus berada di Kana selama beberapa hari. Di Kapernaum, ada seorang pegawai istana. Anaknya sedang sakit dan hampir mati. Dia meminta Yesus datang untuk menyembuhkan anaknya karena telah melihat banyak mukjizat penyembuhan yang dilakukan-Nya. Karena telah menyaksikan banyak mukjizat, dia yakin bahwa Yesus dapat juga menyembuhkan anaknya. Imannya pada awalnya didasarkan pada mukjizat-mukjizat yang dilihatnya, dan cukup kuat untuk mendorongnya pergi dari Kapernaum untuk menjumpai Yesus di Galilea dan memohon kepada-Nya untuk datang ke Kapernaum menyembuhkan anaknya.

Bagaimana Yesus menanggapi permohonan seorang pegawai istana Herodes Antipas? Yesus pertama-tama berkata, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Dia tidak menjawab permintaan sang pegawai istana, tetapi mencela tidak hanya iman orang itu, tetapi juga semua orang Galilea yang lebih tertarik pada tanda-tanda mukjizat daripada pada pribadi dan sabda Yesus. Namun, pegawai istana itu terus meminta-Nya untuk datang dengan berkata, “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Itulah sebabnya Yesus menanggapinya dengan sebuah perintah dan pernyataan, “Pergilah, anakmu hidup.”

Ketika Yesus memerintahkannya untuk pergi karena anaknya hidup, pegawai istana itu melakukan seperti yang diperintahkan-Nya. Ia percaya kepada apa yang Yesus katakan. Dasar imannya bukan lagi melihat tanda-tanda, sebab iman yang hanya berdasar pada tanda yang dibuat Yesus belum merupakan iman yang sempurna. Iman orang itu terus berlanjut sampai pada pribadi Yesus, terutama lewat firman yang disampaikan-Nya. Kata-kata Yesus memiliki kuasa dan kekuatan yang dapat diandalkan.

Sebagai dampak dari kesembuhan sang anak, pegawai raja itu beserta seluruh keluarganya menjadi percaya. Hal itu terjadi berkat perjumpaan dengan Yesus. Dia dan seluruh keluarganya menjadi percaya bahwa kata-kata Yesus dapat dipegang, bahwa kata-kata Yesus memiliki kekuatan dan kuasa yang dapat menyembuhkan dan membawa kehidupan.