Menjaga Diri dari Kesesatan

Kamis, 24 Mei 2018 – Hari Biasa Pekan VII

170

Markus 9:41-50

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”

***

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa Tuhan memperhitungkan siapa pun yang memberikan dukungan bagi pelayanan dalam nama-Nya, meskipun dukungan itu di mata manusia tampak kecil dan remeh.

Selain itu, Yesus berpesan agar kita mewaspadai adanya penyesatan. Oleh-Nya anak kecil dijadikan contoh. Kita tahu bahwa anak kecil adalah sosok yang polos, sosok yang baru dan sedang mempelajari banyak hal. Mereka membutuhkan bimbingan dari orang dewasa. Anak kecil di sini bisa jadi bermaksud menggambarkan orang-orang yang baru belajar mengenal dan mengimani Tuhan. Sungguh terlalu kalau mereka ini malah disesatkan dengan dibawa ke jalan yang salah. Murid-murid Yesus harus bertanggung jawab untuk membimbing sesama agar mereka mengenal dan mengimani Yesus dengan baik.

Kemudian Yesus beralih kepada penyesatan yang dilakukan oleh diri sendiri. Ia di sini menampilkan gambaran-gambaran yang ekstrem seperti memenggal tangan dan mencungkil mata. Janganlah hal itu dipahami secara harfiah. Pada pokoknya, Yesus mau mengatakan bahwa apa pun yang dapat membawa kita jatuh dalam dosa harus kita singkirkan.

Pada masa sekarang ini, di mana teknologi berkembang sangat pesat, ada banyak sekali godaan yang dapat menyesatkan dan menjauhkan kita dari Tuhan. Di media sosial, dengan satu sentuhan jari tangan saja, dalam waktu singkat kita bisa menjadi penyesat, yakni dengan menyebarkan kabar bohong kepada rekan-rekan kita. Kita pun dapat menjadi korban, yakni kalau kita percaya begitu saja kabar-kabar bohong yang bertujuan memecah belah kesatuan masyarakat.

Karena itulah Gereja selalu menyerukan agar kita memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai sarana pewartaan dan demi kesejahteraan seluruh umat manusia. Kendalikan diri dan budi kita masing-masing. Jangan sampai kita tersesat dan menyesatkan orang lain. Marilah kita mempertanggungjawabkan iman kita dengan sebaik-baiknya.