Jangan Marah Ketika Ditolak

Kamis, 12 Juli 2018 – Hari Biasa Pekan XIV

122

Matius 10:7-15

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”

***

Beginilah Matius menyusun kisah perutusan dua belas murid Yesus: Mereka dipanggil oleh Yesus, lalu diutus kepada orang Israel untuk memberitakan datangnya Kerajaan Surga dan menyembuhkan orang-orang sakit. Para murid hendaknya tidak membebani diri dengan hal-hal yang tidak perlu, dan bersiap mendapat sambutan maupun penolakan. Kisah perutusan lalu dihubungkan dengan warta tentang penghakiman di akhir zaman.

Perhatian khusus diarahkan pada tanggapan orang-orang yang didatangi murid-murid Yesus. Para murid mendatangi mereka dengan membawa damai. Sebagian orang menyambut hangat kehadiran itu, yang lain menolaknya. Jika yang disebut terakhir ini yang terjadi, apa yang harus dilakukan? Instruksi yang diberikan jelas: Jangan marah, jangan pula membalas dengan kekerasan. Tinggalkan saja orang-orang itu, serahkanlah nasib mereka pada penyelenggaraan Tuhan.

Ditolak saat mewartakan kabar baik memang mengecewakan. Bagaimana mungkin orang lebih memilih kejahatan daripada kebenaran dan keadilan? Di pihak kita, hendaknya situasi sulit ini tidak membuat kita emosi atau malah patah semangat. Tuhan akan selalu membuka jalan. Yakin saja bahwa pewartaan kita akan menyentuh hati yang bersangkutan suatu saat nanti. Bukankah segala sesuatunya mesti berproses dan perlu waktu?