Cintailah Doa

Selasa, 11 September 2018 – Hari Biasa Pekan XXIII

69

Lukas 6:12-19

Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.

***

Menghadapi kritikan bertubi-tubi dari pihak kaum Farisi dan ahli Taurat (Luk. 5:17 – 6:11), Yesus merasakan perlunya keberadaan orang-orang yang bisa mendukung tugas perutusan-Nya. Perhatian Yesus kemudian tertuju kepada mereka yang menerima kehadiran-Nya sebagai seorang nabi. Ia pun memilih dari antara mereka dua belas orang untuk menjadi rasul-Nya.

Melihat jumlahnya, para rasul jelas dimaksudkan sebagai lambang pemulihan bagi dua belas suku Israel. Selain mendukung karya Yesus, mereka diharapkan juga kelak dapat meneruskan dan memperluas karya itu kepada bangsa-bangsa di seluruh bumi. Peran para rasul sangat penting, sehingga Yesus tidak main-main dalam memilih mereka. Ia berdoa semalam-malaman untuk itu.

Yesus memang pribadi yang mencintai doa. Sebelum membuat keputusan, Ia senantiasa berdoa, begitu pula saat mengalami peristiwa penting atau situasi sulit (Luk. 3:21; 22:41). Pada saat-saat tertentu, Yesus bahkan sengaja mengundurkan diri dari keramaian untuk secara khusus berdialog dengan Bapa (Luk. 5:16). Kita diharapkan-Nya melakukan hal yang sama (Luk. 18:1).

Karena itu, marilah kita belajar mencintai doa. Sesibuk apa pun, luangkanlah waktu untuk berdialog dengan Dia yang mencintai kita. Dengan berdoa, kita akan memperoleh ketenangan, penghiburan, peneguhan, bimbingan, juga inspirasi dalam menjalani suka duka kehidupan ini. Ingat, jangan pernah melakukan apa pun tanpa diawali dengan doa!