Bertobat secara Terus-menerus

Jumat, 5 Oktober 2018 – Hari Biasa Pekan XXVI

52

Lukas 10:13-16

“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!

Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”

***

Bacaan Injil kemarin berkisah tentang pengutusan tujuh puluh murid. Selain mengutus mereka, Yesus juga memberikan amanat tentang apa yang harus mereka lakukan bila kota-kota yang didatangi menerima ataupun menolak mereka. Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengarkan kecaman Yesus terhadap beberapa kota. Dua kota pertama yang dikecam Yesus adalah Khorazim dan Betsaida yang terletak di sekitar Danau Galilea. Di situ Yesus banyak mengajar dan melakukan mukjizat, tetapi mereka menolak kabar keselamatan dan menolak untuk bertobat.

Yesus membandingkan kedua kota itu dengan Tirus dan Sidon, kota yang terletak di luar wilayah Galilea dan dihuni oleh orang-orang bukan Yahudi. Terkenal sebagai kota-kota yang penuh dengan kemewahan dan pesta pora, Yesus meyakini bahwa penduduk di kedua kota itu akan bertobat seandainya mereka melihat kebesaran karya Allah.

Kota berikutnya yang dikecam Yesus adalah Kapernaum. Kapernaum juga terletak di sekitar Danau Galilea. Kota ini termasuk istimewa karena di sini Yesus banyak melakukan mukjizat. Dengan keistimewaan itu, Kapernaum dianggap sebagai kota yang dekat dengan surga. Karena itulah Yesus mengistilahkannya “dinaikkan sampai ke langit.” Tujuan Yesus mengajar dan melakukan berbagai mukjizat adalah agar mereka senantiasa berorientasi pada kehidupan kekal dan bertobat secara terus-menerus. Sayang, itu tidak ditemukan Yesus di Kapernaum.

Peringatan terhadap Tirus, Sidon, dan Kapernaum menunjukkan bahwa Yesus akan meninggalkan kota-kota itu dan tidak akan kembali lagi ke sana. Ia mengecam ketiga kota itu karena kebebalan hati mereka. Mereka menolak kabar gembira dan tidak mau bertobat. Kehadiran Yesus tidak membuat mereka bertobat dan menjadi lebih baik.

Kebebalan hati merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak bertemu dengan orang bebal, bahkan mungkin kita sendiri termasuk di dalamnya. Orang bebal biasanya sulit berubah. Kebebalan biasanya diawali dengan ketidakmauan untuk mendengarkan. Dengan tidak mendengarkan, maka tidak akan memahami. Dengan tidak memahami, maka apa pun yang dikatakan orang lain semuanya akan dianggap tidak benar dan tidak perlu diterima. Karena itu, kebebalan sebenarnya adalah suatu bentuk kebodohan karena menganggap diri paling benar dan menganggap tahu segalanya. Sikap seperti ini sangat merugikan kehidupan bersama.

Bertobat secara terus-menerus adalah panggilan kita sebagai pengikut Kristus. Untuk itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuka hati untuk mendengarkan sabda Tuhan. Tuhan berbicara dengan berbagai cara: melalui firman-Nya yang kita baca, dengar, dan renungkan, melalui pembicaraan dengan para sahabat dan kerabat, melalui alam di sekitar kita, melalui orang-orang yang kita jumpai setiap saat, dan bahkan melalui peristiwa-peristiwa hidup yang kita alami. Jika kita membuka hati untuk sapaan Tuhan, kita akan mampu mendengarkan suara-Nya dan memahami pesan yang disampaikan. Pemahaman ini akan membuat kita mampu meresapinya, dan kemudian berubah. Kita akan dimampukan untuk bertobat sesuai dengan apa yang dipesankan oleh Tuhan kepada kita.

Saudara-saudari sekalian, mari kita membuka hati sebagai langkah awal untuk memulai pertobatan kita.