Dalam Lemah Berserah kepada Allah

Minggu, 10 Maret 2019 – Hari Minggu Prapaskah I

52

Lukas 4:1-13

Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”

Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus menjawabnya, kata-Nya: “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”

Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.

***

Makan merupakan kebutuhan primer dalam hidup manusia. Oleh karenanya, orang-orang bekerja keras supaya bisa makan secara cukup setiap hari. Orang bisa hidup tanpa makan dan minum, namun terbatas hanya dalam rentang waktu tertentu saja. Manusia sangat membutuhkan makanan. Bagi orang yang menderita maag, makan teratur bahkan merupakan keharusan, sebab kalau tidak perut mereka akan bergejolak dan lambung akan terasa digores-gores. Demikianlah makan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia.

Dalam berbagai kesempatan dan tradisi, termasuk juga dalam tradisi iman Katolik, ada kesempatan untuk menjalani puasa. Kalau kita pernah menjalaninya selama sehari saja, kita akan tahu bahwa puasa membuat kita merasa sangat lapar, sehingga bisa jadi kita akan makan sepuas-puasnya setelah waktu puasa berakhir.

Injil yang kita dengarkan hari ini bercerita tentang Yesus yang menjalani puasa. Ia tidak makan dan minum selama empat puluh hari di padang gurun. Sebagai manusia, kita dapat membayangkan apa yang dirasakan Yesus, yakni rasa lapar yang amat sangat. Memang itulah yang Ia rasakan. Dalam keadaan demikian, Yesus digoda Iblis untuk mengubah batu menjadi roti. Dan, bukan hanya itu, Iblis terus membujuk Yesus dengan harapan Yesus tidak lagi taat pada kehendak Allah dan lebih mengikuti kemanusiaan-Nya. Namun, Yesus dengan berani menghadapi godaan itu dan melewatinya satu per satu. Memang badan-Nya menjadi lemah karena tidak makan selama empat puluh hari, tetapi Yesus menggapai sukacita surgawi karena taat akan bimbingan dan kekuatan Allah.

Seperti yang dialami Yesus, kita pun tidak pernah lepas dari godaan. Namun, Allah mengarahkan kita untuk menggapai sukacita surgawi dengan taat kepada kehendak-Nya. Sukacita rohani tercapai ketika dalam kelemahan dan situasi seberat apa pun kita tetap setia mengikuti tuntunan Yang Ilahi dalam diri kita. Kedosaan adalah situasi di mana kita menyerah pada realitas kemanusiaan kita. Secara fisik, kita merasa senang karena kenyang; namun, secara rohani, kita hanya akan masuk ke dalam ruang dosa. Dalam banyak kesempatan, menyerah pada kelemahan justru akan membawa kita pada kekeringan rohani dan kekosongan diri.

Oleh karena itu, permenungan tentang Yesus dicobai di padang gurun mengajak kita untuk sadar akan realitas kelemahan dan keterbatasan diri kita. Dengan kesadaran itu, kita menjadi waspada akan godaan roh jahat yang membawa kita kepada dosa. Dosa membuat kita terhalang untuk menggapai sukacita ilahi, dan akan membawa kita pada kekosongan dan kekeringan rohani.