Perintah untuk Saling Mengasihi

Minggu, 19 Mei 2019 – Hari Minggu Paskah V

2751

Yohanes 13:31-33a, 34-35

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu.

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

***

Berbicara dengan orang yang sepaham dan sepikiran dengan kita kiranya jauh lebih mudah dibandingkan kalau kita berbicara dengan orang yang sering berbeda pendapat dengan kita. Karena itu, dengan orang yang sepaham dan sepikiran, kita bisa berbicara berlama-lama dalam suasana yang sungguh menyenangkan. Kita juga bisa mengemukakan apa saja kepada mereka, termasuk hal-hal yang sifatnya penting dan pribadi.

Pemahaman tersebut dapat kita terapkan dalam bacaan Injil hari ini, di mana Yesus digambarkan menyampaikan pesan yang sangat penting sesudah Yudas pergi. Hati Yudas sudah mantap. Ia sudah berketetapan untuk tidak sepaham dan sepikiran dengan Yesus. Karena itu, Yesus lebih memusatkan perhatian kepada murid-murid yang lain. Hati mereka terbuka untuk menyambut sapaan-Nya. Murid-murid ini hidup dalam kesatuan dengan-Nya. Yesus berharap agar semangat itu tetap terjaga setelah kepergian-Nya. Karenanya, dalam kesempatan ini Ia mengungkapkan betapa besar kasih-Nya terhadap mereka.

Sebagaimana Yesus mengasihi mereka, para murid hendaknya saling mengasihi satu sama lain. Ajakan ini pastinya bukan ajakan yang biasa-biasa saja. Ada keprihatinan besar yang Yesus lihat dalam kelompok dua belas murid. Mereka sedang berhadapan dengan tantangan yang besar, yaitu permusuhan dan kebencian yang datang dari dunia. Jika tidak diolah dan dihadapi dengan kematangan rohani, keadaan tersebut akan membuat para murid tidak berbuah, bahkan mungkin sirna dan hilang tanpa bekas.

Yesus menegaskan bahwa solusi jitu untuk menghadapi masalah tersebut adalah kasih. Jika para murid satu sama lain saling mengasihi, mereka akan kuat meskipun mereka ini kelompok kecil saja. Permusuhan dan kebencian sebesar apa pun yang datang dari luar tidak akan mampu menghancurkan mereka.

Saudara-saudari terkasih, apa pun persoalan yang kita hadapi, tidak bisa tidak, hadapilah dengan hati yang penuh kasih. Kasih akan membuat kita tenang, berkepala dingin, dan tidak menyimpan dendam. Dengan mengasihi orang lain, kita mengasihi Allah; dan dengan mengasihi Allah, kita memuliakan Dia. Sering kali orang bingung mencari cara bagaimana dirinya bisa memuliakan Tuhan. Jalan sederhana ternyata bisa kita tempuh: muliakanlah Tuhan dengan cara mengasihi sesama kita.