Bukan Penghakiman Melainkan Pertobatan

Rabu, 16 Oktober 2019 – Hari Biasa Pekan XXVIII

31

Lukas 11:42-46

“Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.”

***

Orang Farisi dan ahli-ahli Taurat kerap kali melakukan penghakiman terhadap siapa pun yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan ajaran mereka. Ini terjadi karena mereka berpikir dan berpandangan bahwa pihak merekalah yang paling benar dan paling sempurna. Mereka adalah para “pakar” dan golongan atas, sehingga merasa memiliki otoritas untuk menghakimi orang lain.

Penghakiman berarti ada sikap dan upaya yang menyatakan bahwa diri sendiri lebih baik, lebih benar, dan lebih sempurna. Namun, apakah tindakan itu dapat dibenarkan? Bukankah itu adalah tindakan sewenang-wenang dengan mengatasnamakan otoritas? Bukankah mereka seharusnya merangkul bukan malah menghakimi?

Di sinilah sikap Yesus berseberangan dengan mereka. Yesus menyalahkan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sesungguhnya, hal paling mendasar yang dikehendaki Yesus adalah pertobatan. Itulah yang menurut-Nya paling utama. Dengan pertobatan, semua orang bersama-sama belajar berbalik arah untuk kembali kepada Allah.

Apakah pertobatan itu? Pertobatan adalah transformasi diri untuk mendekat kepada Allah. Hal ini memang tidak mudah, sebab semangat untuk bertobat selalu ada saja halangannya. Itulah yang disebut godaan-godaan. Meminjam istilah Santo Aloysius Gonzaga, kita adalah besi yang dipilin untuk diluruskan. Tindakan meluruskan besi tentu tidak mudah. Namun, tidak ada yang tidak mungkin saat kita mau bersandar dan berpasrah kepada Allah.

Satu yang diharapkan Yesus, yakni agar kita semakin mendekat kepada-Nya. Ia tidak memandang kita dari status maupun dari “kepakaran” kita. Datanglah kepada-Nya apa adanya. Saya belajar tentang hal ini dari anak-anak SD yang menjalani retret di Civita Youth Camp. Dalam sesi ibadat panggilan, satu persatu mereka maju ke depan untuk mempersembahkan lambang diri mereka di depan salib Yesus. Mereka berkata, “Tuhan inilah lambang diriku dan perasaanku saat ini. Lindungilah dan berkatilah aku, ya Tuhan. Amin.”

Seperti yang dilakukan anak-anak itu, pertobatan kiranya dimulai dengan berani mengungkapkan isi hati mereka secara jujur. Tidak ada rasa malu, tidak ada pula yang ditutup-tutupi. Saudara-saudari sekalian, maukah kita sungguh belajar untuk bertransformasi dan mendekatkan diri kepada Tuhan?