Menggapai Kebahagiaan

Jumat, 1 November 2019 – Hari Raya Semua Orang Kudus

54

Matius 5:1-12a

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.”

***

Menggapai kebahagiaan ternyata tidak mudah. Bisa jadi ini karena pengalaman hidup yang berat baru dapat kita hayati sebagai beban, sehingga kita belum sampai menemukan makna rohani yang mendalam darinya. Tentunya untuk itu kita membutuhkan pedoman, tuntunan, dan peneguhan. Dalam rangka itulah Yesus kali ini memberikan pedoman, tuntunan, dan peneguhan bagi orang-orang pada masa-Nya yang mengalami hal-hal yang berat.

Akan tetapi, Yesus tidak hanya meneguhkan mereka yang mengalami tantangan dalam hidup. Ia juga memberi apresiasi kepada orang-orang yang tetap teguh dalam keutamaan-keutaman rohani, misalnya mereka yang lemah lembut, murah hati, suci, membawa damai, dan miskin di hadapan Allah.

Dengan ini Yesus hendak menegaskan bahwa dalam keadaan apa pun, kita diharapkan mempunyai kemampuan untuk menemukan kebahagian yang mendalam. Kebahagiaan jangan sampai hanya hadir di saat kita merasa aman, tenteram, dan damai. Kebahagiaan harus pula muncul di saat kita menghadapi berbagai tantangan dan penderitaan.