Terbuka kepada Semua Orang

Senin, 4 November 2019 – Peringatan Wajib Santo Karolus Borromeus

69

Lukas 14:12-14

Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

***

Latar belakang perikop ini adalah konflik antara Yesus dan lawan-lawan-Nya yang terjadi pada hari Sabat. Saat itu Yesus menghadiri suatu perjamuan. Segala perkataan dan perbuatan-Nya diawasi oleh ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus sedang diuji dan diamat-amati. Lawan-lawan Yesus berharap diri-Nya membuat kesalahan. Kesalahan yang dimaksud adalah melakukan penyembuhan pada hari Sabat.

Tidak peduli sedang dicari-cari kesalahan-Nya oleh banyak orang, ketika ada orang sakit yang mendatangi-Nya, Yesus tetap menyembuhkan orang itu. Meski tindakan tersebut melanggar hukum Sabat, bagi Yesus, kesembuhan orang sakit adalah hal yang penting, mendesak, dan tidak boleh ditunda.

Setelah diamat-amati, kemudian giliran Yesus yang mengamat-amati para hadirin. Ia melihat bahwa mereka, yakni ahli Taurat dan orang-orang Farisi, punya kebiasaan yang sangat buruk. Mereka bernafsu sekali menduduki “tempat-tempat kehormatan.” Karena itu, Yesus memberi nasihat agar orang bersikap rendah hati. Orang yang tinggi hati, yang dengan angkuhnya mengambil tempat paling terhormat, orang itu akan malu kalau kemudian tuan rumah memintanya pindah ke tempat lain. Tuan rumah adalah orang yang paling tahu tentang tamu-tamunya dan yang paling berhak menentukan tempat duduk bagi tamu-tamunya itu.

Setelah mengkritik para undangan, kemudian Yesus ganti memperhatikan si pengundang. Sebagaimana lazim terjadi dahulu maupun sekarang, ketika mengadakan suatu pesta, perjamuan, atau acara makan-makan, orang akan mengundang kerabat, sanak saudara, relasi, koneksi, dan siapa saja yang dekat dengannya. Namun, Yesus punya gagasan lain. “Kalau kamu mengadakan pesta,” demikian kira-kira Ia berkata, “Undanglah orang-orang di luar kelompokmu.” Yang Ia maksud adalah kaum yang selama ini dipinggirkan oleh masyarakat, yaitu orang-orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta. Mereka inilah yang sebaiknya diundang dalam perjamuan karena pada dasarnya mereka berhak juga mendapatkan kebahagiaan. Tentu saja mereka tidak akan mampu mengadakan pesta dan balas memberikan undangan. Akan tetapi, justru itulah yang dimaksud. Yang membalas nanti adalah Allah sendiri, yaitu “pada hari kebangkitan orang-orang benar.” 

Yesus dengan ini memanfaatkan situasi perjamuan yang dihadiri-Nya untuk menggambarkan perjamuan yang lain, yaitu perjamuan dalam Kerajaan Allah. Di sana yang menjadi tuan rumah adalah Bapa, sedangkan kita adalah para undangan. Menghadiri perjamuan di Kerajaan Allah, janganlah kita bersikap tinggi hati. Ingat, yang meninggikan diri akan direndahkan, sedangkan yang merendahkan diri akan ditinggikan.

Selain bersikap rendah hati, kita juga dianjurkan untuk terbuka kepada semua orang, terutama mereka yang berkekurangan dan terpinggirkan. Orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta sering kali dipandang rendah oleh manusia, namun tidak demikian halnya di hadapan Allah. Allah membuka pintu Kerajaan-Nya lebar-lebar bagi mereka. Kalau kita memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan, jangan pernah mengharapkan balasan apa pun dari mereka. Sungguh, mereka tidak mampu memberikannya. Baiklah tangan kita diulurkan dengan tulus hati, siapa tahu Allah berkenan dan karenanya memberi kita jalan yang lapang menuju hidup yang kekal.