Persembahan Hidup

Senin, 25 November 2019 – Hari Biasa Pekan XXXIV

50

Lukas 21:1-4

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

***

Rangkaian renungan kita dalam minggu ini diambil dari Injil Lukas bab 21. Hari ini kita akan memulainya dengan renungan tentang persembahan. Yesus memuji persembahan yang diberikan oleh seorang janda miskin. Ia menunjukkan bahwa janda miskin tersebut “memberi dari kekurangannya.”

Alkisah, ada seorang anak miskin yang mendapatkan roti. Si pemberi roti bingung karena anak itu malah lari membawa roti tersebut alih-alih memakannya, padahal ia memintanya karena lapar. Si pemberi roti lalu mengikuti anak itu sampai ke rumahnya. Betapa terkejutnya dia, anak miskin itu ternyata membagi-bagi roti tersebut untuk adik dan teman-temannya.

Janda miskin dan anak kecil di atas menjadi teladan tentang hati yang memberi, hati yang selalu memperhatikan orang lain, hati yang selalu memikirkan sesama. Mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka adalah teladan pribadi yang berkualitas.

Pribadi berkualitas menurut ukuran dunia adalah mereka yang kaya, mereka yang berprestasi, mereka yang punya jabatan. Namun, Injil pada hari ini menunjukkan pribadi berkualitas dalam ukuran yang sungguh berbeda. Pribadi berkualitas menurut Injil adalah pribadi yang memberikan persembahan berupa hati dan hidup demi kebaikan bersama. Mereka tidak rakus. Mereka tidak menumpuk barang. Mereka sudah merasa cukup dengan segala rahmat yang Tuhan berikan. Hanya orang yang bisa bersyukur yang mampu memberikan persembahan hidup. Kisah tentang persembahan janda miskin yang kita dengar hari ini mengundang kita untuk bertanya, beranikah saya berkata cukup? Beranikah saya berhenti menumpuk barang? Beranikah saya memberikan persembahan hidup bagi orang-orang di sekitar saya?