Mengikut Yesus

Jumat, 21 Februari 2020 – Hari Biasa Pekan VI

56

Markus 8:34 – 9:1

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”

Kata-Nya lagi kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.”

***

Hari ini, Yesus memanggil kita. Ia berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Itulah persyaratan untuk menjadi murid-Nya.

Yang pertama adalah menyangkal diri. Tersirat di sini ajakan untuk taat kepada Allah, alih-alih kepada kemauan sendiri. Yesus juga meminta kita untuk siap kehilangan nyawa bagi orang lain. Tuntutan ini mengingatkan kita bahwa orang tidak mungkin hidup untuk dirinya sendiri.

Yang kedua adalah memikul salib. Dengan ini kita diajak untuk berani menanggung beban dan derita kehidupan ini. Termasuk di dalamnya adalah keberanian untuk meninggalkan hal-hal yang paling berharga bagi diri kita, bahkan orang-orang yang paling kita sayangi.

Yang ketiga adalah mengikuti Dia. Kita diajak untuk mengarahkan mata dan hati kita hanya kepada Yesus.

Karena yang dituntut ternyata adalah salib dan penyangkalan diri, apakah orang tertarik untuk menanggapi panggilan Yesus tersebut? Kenyataannya demikian. Banyak orang bersedia menerima undangan untuk memikul salib kehidupan bersama Yesus, kita termasuk di dalamnya.

Kesediaan untuk menderita demi Yesus adalah ungkapan tertinggi seorang murid. Mengikut Yesus itu sangat indah. Penderitaan dan penganiayaan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hal itu. Lihatlah teladan para martir! Bagaimana dengan kita, murid-murid Yesus masa kini? Sudahkah kita merasakan betapa indahnya menjadi murid-murid Yesus? Ataukah keindahan itu tidak kita rasakan karena perhatian kita lebih tersita kepada penderitaan yang kita alami?