Mengasihi Tuhan dan Mengasihi Sesama

Kamis, 4 Juni 2020 – Hari Biasa Pekan IX

51

Markus 12:28b-34

Lalu seorang ahli Taurat datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

***

Berbeda dengan yang lain, ahli Taurat yang muncul dalam bacaan Injil hari ini tidak bermaksud menjebak Yesus. Ia mempertanyakan suatu hal kepada Yesus benar-benar dalam rangka berdiskusi. Pertanyaannya tentang perintah yang paling utama merupakan hal yang sering diperbincangkan orang Yahudi. Tidak heran jika ia ingin mengetahui pendapat Yesus tentang hal ini.

Menegaskan apa yang tercantum dalam Taurat, Yesus menyatakan bahwa perintah paling utama adalah kasih yang utuh terhadap Allah dan kasih yang utuh terhadap sesama. Dalam hal ini, tidak ada perintah nomor satu atau nomor dua. Kedua perintah itu sama penting dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jawaban Yesus membuat ahli Taurat itu terkesan. Ia setuju dengan-Nya sambil menambahkan bahwa kasih terhadap Allah dan sesama jauh lebih utama daripada kurban bakaran dan kurban-kurban lainnya.

Perintah agung yang ditegaskan Yesus hari ini harus selalu kita ingat. Sungguh mengherankan kalau ada orang yang rajin ke rumah Tuhan, tetapi yang bersangkutan tidak peduli kepada orang lain. Ujian akan hal itu sedang berlangsung saat ini, di mana wabah corona yang merajalela di seluruh dunia mendatangkan penderitaan bagi hidup banyak orang: banyak yang meninggal, banyak yang kehilangan pekerjaan, banyak pula yang tidak lagi memiliki persediaan makanan. 

Apa yang kita lakukan sebagai murid-murid Kristus dalam situasi sulit seperti sekarang ini? Jangan diam saja, jangan pula bersikap masa bodoh. Lakukanlah sesuatu untuk meringankan beban orang lain! Ingatlah bahwa kasih terhadap Tuhan dan kasih terhadap sesama bukan dua hal yang terpisah. Kita harus mengasihi Tuhan, sekaligus mengasihi sesama. Kita harus mengasihi sesama, sekaligus mengasihi Tuhan.