Kelahiran Yohanes Pembaptis

Rabu, 24 Juni 2020 – Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis

38

Lukas 1:57-66, 80

Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya: “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: “Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.

***

Elisabet yang telah berusia lanjut melahirkan seorang anak laki-laki. Apa yang dianggap sebagai suatu hal yang mustahil bagi manusia ternyata benar-benar terjadi. Kelahiran anak laki-laki ini membawa sukacita bagi Zakharia dan Elisabet. Bukan hanya kedua orang lanjut usia ini yang menikmati sukacita karena kelahiran anak itu, tetapi juga para tetangga dan sanak saudara mereka. Dalam pandangan mereka, kelahiran anak itu menjadi bukti bagaimana Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar, khususnya kepada Elisabet.

Pada hari kedelapan, anak itu disunat dan diberi nama (bdk. Kej. 17:12; Im. 12:3). Para tetangga dan sanak saudara datang untuk menyunatkan anak itu. Pada waktu itu juga, mereka hendak memberi nama kepada anak itu “Zakharia” menurut nama ayahnya. Namun, sebelum hal itu terjadi, Elisabet menegur mereka, “Jangan, ia harus diberi nama Yohanes.” Ini mengherankan, sebab orang Yahudi biasanya memberi nama pada bayi dengan mengambil nama salah satu dari nama orang tua, kakek-nenek, atau kerabat dari si bayi.

Karena belum yakin, dengan bahasa isyarat, orang-orang itu bertanya kepada bapaknya tentang nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Zakharia pun meminta batu tulis. Di atas batu tulis itu ia menulis, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka semua merasa heran. Dalam pandangan mereka, Zakharia dan Elisabet sepakat untuk memberi nama “Yohanes” kepada anak mereka, nama yang tidak dipakai oleh seorang pun dari kerabat mereka. Wajar kalau dalam hati mereka bertanya dari mana kedua orang ini mendapatkan gagasan untuk memberikan nama itu. Mereka menjadi lebih heran lagi ketika menyaksikan apa yang terjadi sesudahnya.

Seketika itu juga terbukalah mulut Zakharia dan terlepaslah lidahnya. Ia berkata-kata lagi, dan kata-kata pertama yang diucapkannya berisi pujian kepada Allah. Ketika menampakkan diri, Malaikat Gabriel menyatakan kepada Zakharia bahwa ia akan menjadi bisu sampai semua yang dikatakannya itu terjadi (Luk. 1:20). Zakharia dibuat demikian karena tidak percaya bahwa istrinya yang telah lanjut usia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang harus diberi nama “Yohanes.”

Sekarang telah terbukti bahwa semua yang dikatakan oleh malaikat itu benar. Pemberian nama itu adalah hal terakhir yang dikatakan oleh malaikat kepada Zakharia. Karena itu, begitu Zakharia memberikan nama kepada anaknya, ia dapat berbicara kembali. Tidak dikatakan isi pujian yang disampaikan oleh Zakharia, tetapi wajar jika dikatakan bahwa ia memuji Allah karena telah menunjukkan kebenaran firman-Nya. Ia telah memilih Zakharia dan Elisabet untuk menurunkan seorang anak yang akan menjadi pembuka jalan bagi Mesias yang akan datang.

Apa yang dialami oleh Elisabet menunjukkan bahwa Allah sanggup melakukan hal-hal yang mustahil menurut perhitungan manusia. Sebab, Dialah Yang Mahakuasa yang menciptakan segala yang ada. Kenyataan ini mengingatkan kaum beriman untuk senantiasa percaya dan berlindung kepada-Nya. Ketika orang beriman mengalami karya Allah yang ajaib, sebenarnya Allah hendak menyatakan diri bukan hanya kepada orang yang mengalaminya, tetapi juga kepada orang-orang lain. Karena itu, orang beriman perlu mewartakan karya Allah kepada sesama, baik dengan kata maupun dengan perbuatan.