Imanmu Menyelamatkan Engkau

Senin, 6 Juli 2020 – Hari Biasa Pekan XIV

69

Matius 9:18-26

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

***

Doa yang baik dan efektif tidak bergantung pada banyaknya kata maupun metode yang digunakan, tetapi pada kekuatan iman orang yang berdoa. Penginjil Matius hari ini mengisahkan kepada kita dua mukjizat Yesus, yakni membangkitkan seorang yang mati dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan.

Dalam narasi mukjizat yang pertama, seorang kepala rumah ibadat menyembah dan memohon agar Yesus segera ke rumahnya. Ia berkata, “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Yesus pun bergegas menuju ke rumah orang itu. Dalam perjalanan itu terjadilah mukjizat yang lain. Seorang perempuan yang telah dua belas tahun menderita sakit pendarahan tiba-tiba mengambil inisiatif dalam mendekati dan menjamah jubah Yesus. Ia berkeyakinan, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”

Dari kedua situasi itu, dapat digarisbawahi bahwa apa pun pendekatan yang diambil, imanlah yang diperhitungkan. Karena imannya, perempuan yang sakit pendarahan mendekati dan menyentuh jubah Yesus. Harapan dalam dirinya sangat kokoh, sehingga akhirnya ia pun disembuhkan. Yesus berkata kepadanya, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Hal yang sama juga berlaku bagi sang kepala rumah ibadat. Ia yakin bahwa Yesus bisa melakukan sesuatu yang luar biasa bagi putrinya. Harapan tersebut akhirnya terwujud. Putrinya yang telah mati kemudian hidup kembali. Demikianlah, iman yang kokoh telah melakukan keajaiban yang luar biasa.

Sikap iman yang ditunjukkan kedua orang itu menantang sekaligus “mencubit” kesadaran kita akan penyelenggaraan ilahi. Mata manusia bisa jadi berpandangan bahwa kedua peristiwa itu mustahil terjadi. Namun, iman dalam diri seseorang sesungguhnya selalu membuahkan sesuatu yang luar biasa. Baik kepala rumah ibadat maupun perempuan yang sakit pendarahan itu memberi kita teladan iman akan kemahakuasaan Allah.

Perkataan Yesus kepada perempuan yang sakit pendarahan, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau,” dan perkataan-Nya kepada orang-orang yang meratapi kematian putri kepala rumah ibadat, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur,” menantang kita untuk teguh berpengharapan pada kekuatan-Nya, bukan pada diri kita sendiri. Dalam setiap doa yang dipanjatkan, kita mestinya berharap pada kekuatan cinta-Nya, bukan pada sumber daya kita sendiri. Allah yang kita imani adalah Allah yang penuh kasih dan penyayang. Ia selalu mendengarkan doa-doa kita. Karena itu, mari kita sadari bahwa doa yang paling mujarab adalah doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan hati.