Pengampunan adalah Soal Kualitas

Kamis, 13 Agustus 2020 – Hari Biasa Pekan XIX

94

Matius 18:21 – 19:1

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Maka Bapa-Ku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.

***

Perumpamaan tentang pengampunan menjadi dasar, sekaligus melanjutkan ajaran Yesus yang kita dengar dalam bacaan Injil kemarin, yaitu tentang teguran kepada anggota komunitas yang melakukan kesalahan. Perumpamaan ini juga sangat erat kaitannya dengan ajaran Yesus yang lain, yaitu tentang doa Bapa Kami.

Pengampunan harus menjadi landasan para murid Yesus, juga kunci dalam kehidupan bersama. Mereka harus senantiasa hidup rukun dan penuh persaudaraan. Namun, sebagaimana kita tahu, justru pengampunan adalah salah satu hal yang paling sulit untuk dilakukan oleh manusia. Ketika kemarahan, iri hati, dan dengki terus-menerus terjadi dalam kehidupan bersama, pengampunan rasa-rasanya menjadi sesuatu yang mustahil.

Dalam perumpamaan yang kita dengar hari ini, ditegaskan bahwa yang terpenting bukanlah soal kuantitas atau jumlah pengampunan yang kita berikan kepada orang lain. Menghitung-hitung jumlah hanya akan membuat kita lelah, sebab manusia tidak akan pernah berhenti untuk jatuh dalam kesalahan. Bagi Yesus, pengampunan itu lebih mengenai kualitas. Hal ini terungkap dalam nasihat-Nya agar para murid mengampuni saudara-saudara mereka dengan segenap hati.

Ketika kita mengampuni orang lain, ini bukan soal untung dan rugi. Selain menyangkut hubungan kita dengan orang yang bersangkutan, tindakan ini berpengaruh juga pada hubungan kita dengan Allah. Dengan mengampuni seseorang, kita memutuskan mata rantai kebencian dan permusuhan. Dengan itu, kita memerdekakan diri kita sendiri dari segala niat untuk membenci dan membalas dendam kepada sesama.