Jadilah Engkau Tahir

Jumat, 8 Januari 2021 – Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan

53

Lukas 5:12-16

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

***

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus. Sebagai orang yang dipandang najis, hidupnya sungguh menderita. Selain menanggung penyakit yang melemahkan badan, ia juga harus mengalami penderitaan mental karena disingkirkan dari dan oleh masyarakat. Orang ini baru bisa diterima kembali sebagai umat Allah kalau sudah sembuh dari kusta dan dinyatakan tahir oleh seorang imam.

Akan tetapi, mengenai para penderita kusta, pandangan Yesus berbeda dengan pandangan masyarakat pada umumnya. Alih-alih menjauhi, Yesus tidak berkeberatan untuk menyapa dan mendekati mereka. Orang kusta ini rupanya mengetahui hal itu. Ia pun percaya bahwa Yesus adalah sosok yang penuh kuasa. Karena itu, dengan percaya diri, ia berseru “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Iman yang besar ini membuahkan dampak positif. Yesus berkenan memberikan pemulihan, sehingga seketika itu juga penyakit kusta lenyap dari dirinya.

Selain menggarisbawahi perbedaan sikap antara Yesus dan masyarakat, kisah ini juga menegaskan bahwa Yesus konsisten dalam menjalankan misi-Nya. Sebagai Mesias yang memberitakan kedatangan tahun rahmat Tuhan, Ia menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Orang kusta masuk dalam kategori orang miskin, sebab yang dimaksud miskin di sini tidak hanya mereka yang berkekurangan secara ekonomi, tetapi juga kaum marginal, orang-orang yang disingkirkan dan diabaikan oleh masyarakat luas. Kepada mereka, Yesus berkenan mengulurkan tangan dan menjamah. Dengan ini ditegaskan bahwa status mereka sebagai anggota umat Allah dipulihkan sepenuhnya. Mereka adalah anak-anak Allah, dan Allah Bapa sungguh mengasihi mereka.

Pada masa pandemi seperti sekarang, bacaan Injil hari ini begitu aktual dan relevan. Banyak orang jatuh sakit akibat dihinggapi virus yang ganas dan mematikan. Mereka merindukan kesembuhan, mungkin salah satunya adalah kita sendiri. Seperti orang kusta tadi, kita pun berseru kepada Yesus, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Mari bersandar kepada-Nya, mari mempercayakan diri kita kepada kuasa-Nya yang luar biasa. Kesembuhan jasmani bisa jadi belum kita rasakan saat ini, tetapi bersama Yesus setidaknya kita tidak sendirian. Ia berada di sisi kita untuk meneguhkan kita agar tetap kuat dan pantang menyerah dalam menjalani saat-saat yang berat ini.