Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil

Senin, 11 Januari 2021 – Hari Biasa Pekan I

255

Markus 1:14-20

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

***

Hari ini, Injil mengundang kita untuk bertobat: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Bertobat menjadi apa? Atau lebih tepatnya, bertobat kepada siapa? Kepada Kristus!

Bertobat berarti menerima karunia iman dengan penuh syukur, serta menjalani kehidupan dengan cinta dan pelayanan. Bertobat berarti menerima Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja hati kita, sehingga kita menjadi hamba yang berguna bagi-Nya. Bertobat berarti menemukan Kristus dalam setiap peristiwa sejarah manusia, dan juga dalam sejarah pribadi kita sendiri, sambil menyadari bahwa Dia adalah asal mula, inti, dan akhir dari keseluruhan sejarah, dan bahwa segala sesuatu telah ditebus oleh-Nya dan, di dalam Dia, semua mencapai kepenuhannya. Bertobat juga berarti hidup dengan pengharapan karena Dia telah mengalahkan dosa dan maut, dan Ekaristi adalah jaminan-Nya.

Bertobat juga berarti mencintai Tuhan lebih dari apa pun di dunia ini dengan segenap hati kita, segenap jiwa kita, dan segenap kekuatan kita. Bertobat berarti pula mengarahkan seluruh akal budi dan kehendak kita kepada-Nya. Dengan demikian, segalanya adalah milik Tuhan: Waktu, harta benda, harapan, proyek, kesehatan, keluarga, pekerjaan, waktu luang, semuanya.

Oleh karena itu, untuk bertobat, kita perlu mencintai kehendak Tuhan atas segala sesuatu, sambil bersyukur atas apa pun yang Dia berikan kepada kita, bahkan jika pemberian itu tidak sesuai dengan keinginan kita. Pemberian yang tidak sesuai itu merupakan harta yang memungkinkan kita mengungkapkan lebih jelas cinta kita kepada Tuhan: Jika Engkau menginginkannya seperti itu, begitu pula saya!

Seperti yang terjadi dengan Rasul Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, bertobat berarti “segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia” begitu kita mendengar suara-Nya. Untuk bertobat, Kristus harus menjadi segalanya bagi kita. Tuhan, semoga Engkau menjadi segalanya bagi kami!