Pertobatan dan Pengutusan Paulus

Senin, 25 Januari 2021 – Pesta Bertobatnya Santo Paulus

124

Kisah Para Rasul 9:1-22

Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa darinya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang juga pun. Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: “Ananias!” Jawabnya: “Ini aku, Tuhan!” Firman Tuhan: “Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.

Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata: “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias.

***

Paulus dari Tarsus, siapa yang tidak kenal dia? Dia adalah rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi, misionaris terbesar dalam sejarah awal agama Kristen. Tanpa Paulus, pengikut Yesus mungkin tetap menjadi sebuah sekte dalam agama Yahudi saja. Secara historis, Pauluslah yang mengubah sekte kecil Yahudi di Palestina itu menjadi agama besar yang mendunia.

Sebagai seorang misionaris, Paulus termasuk “paket komplet”. Ia memiliki banyak kualitas yang mendukung pewartaan dan karya misinya. Paulus adalah seorang yang berdarah Yahudi, berpaspor Romawi, dan berhati kristiani. Dia seorang Yahudi fanatik, seorang Farisi yang mahir dan menaati Taurat. Paspor Romawi membuatnya mudah menginjili wilayah kekaisaran Romawi yang luas, serta memanfaatkan jaringan transportasinya yang maju.

Setelah dijumpai Tuhan, hati Paulus sepenuhnya terpaut pada-Nya. Ia berubah total dan menjadi murid Kristus yang fanatik. Seluruh dirinya dijiwai oleh Kristus: “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Karena itu, ia dibenci oleh orang Yahudi. Keberanian dan fanatisme itu juga merepotkan jemaat Kristen sendiri. Ia sering dicurigai dan kurang dihargai. Demi dan karena Kristus, Paulus banyak menderita.

Itulah perubahan diri dan misi Paulus. Begitu pentingnya peristiwa ini, sehingga Lukas menceritakannya sampai tiga kali (Kis. 9; 22; 26). Ada yang menyebutnya sebagai peristiwa “pertobatan”, yang lain menyebutnya sebagai momen “pengutusan”. Paulus memang tidak berpindah agama. Ia tetaplah seorang Yahudi. Akan tetapi, jelas hidupnya berubah total: Dari seorang yang membenci pengikut Yesus, menjadi seorang yang dibenci karena mengikuti Yesus. Kiblat misinya juga berubah: Dari pembela Taurat yang fanatik, menjadi pewarta Injil yang gigih. Tentu perubahan ini bukan karena usahanya sendiri. Tuhanlah yang mengubah Dia. Perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit dalam perjalanan ke Damsyik itulah yang mengubah seluruh diri dan misi Paulus.

Paulus sendiri melukiskan “perjumpaannya” dengan Tuhan itu sebagai saat Allah “menyatakan Anak-Nya di dalam aku” (Gal. 1:16). Jadi, baginya ini adalah sebuah pengalaman eksistensial, rohani, dan mendalam. Perjumpaan ini sungguh berdampak dan mengubah. Ketaatannya pada Taurat sudah membuatnya fanatik buta dan gelap mata. Karena itu, di jalan ke Damsyik, cahaya Tuhan membutakan matanya. Ia harus diberi mata yang baru agar meninggalkan cara pandangnya yang lama. Buta selama tiga hari adalah simbol perubahan total cara pandang Paulus. Pandangannya tentang Allah diubah secara radikal. Allah yang selama ini ia bela, ternyata sedang ia aniaya. Kelompok yang selama ini dikejar-kejarnya sebagai aliran sempalan, ternyata sungguh merupakan pengikut “Jalan Tuhan”.

Bagi Saulus Farisi, Tuhan dahulu harus diproteksi dalam batas-batas umat Israel saja. Sekarang, Tuhan malahan menjadikannya sebagai alat pilihan bagi-Nya untuk memberitakan nama-Nya kepada bangsa-bangsa lain(Kis. 9:15). Rahmat Allah diterima secara cuma-cuma dalam iman kepada-Nya, tidak lagi dengan melakukan pelbagai aturan Taurat. Keanggotaan dalam umat Allah tidak lagi didasarkan pada pelbagai cap dan bendera, seperti sunat, makanan halal, pelbagai aturan ketahiran, serta hari raya. Sekarang, hanya ada satu kriteria untuk menjadi umat Allah, yakni iman kepada Yesus Kristus. Itulah “Injil Paulus” yang diberitakan dan dihidupinya dengan setia dan gigih. Itulah warisannya bagi kita, yakni bahwa Berita Gembira dari Allah harus dibuka bagi semua, tanpa batas, sekat, dan bendera!