Kegagalan, Mukjizat, dan Keseharian

Rabu, 27 Januari 2021 – Hari Biasa Pekan III

128

Markus 4:1-20

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.” Lalu Ia berkata kepada mereka: “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”

***

Yesus memang pandai bercerita. Pendengar-Nya tidak perlu belajar dari kamus dan buku, cukuplah mengamati alam dan merenungi peristiwa sehari-hari. Petani, tanah, dan benih menjadi bahan ilustrasi.

Meskipun diberi judul Perumpamaan tentang Seorang Penabur, perumpamaan ini sebenarnya lebih berfokus pada nasib benih di empat jenis tempat di mana benih itu jatuh. Arti perumpamaan ini selanjutnya dijelaskan oleh Yesus sendiri, sehingga tidak perlu lagi dirinci. “Benih” adalah firman atau pemberitaan tentang Kerajaan Allah, sedangkan pelbagai jenis tanah menunjuk pada kualitas tanggapan orang-orang yang mendengar pemberitaan firman Allah itu.

Kalau berfokus pada nasib benih yang ditaburkan, beberapa pokok segera mencuat. Pertama, perhatian kita diarahkan pada kegagalan. Bayangkan, ada tiga kegagalan dan hanya ada satu keberhasilan. Konon, hal itu wajar dan biasa terjadi dalam dunia pertanian di Palestina.

Kedua, jangan dilupakan bahwa proses alamiah “benih yang ditanam, bertumbuh, dan berbuah” ini sering dipakai juga sebagai metafora untuk misteri dan mukjizat kehidupan serta kebangkitan (bdk. 1Kor. 15:35-38).

Ketiga, angka seratus kali lipat adalah angka panenan yang baik, tetapi tidak luar biasa, sebab panenan yang sukses sering mencapai empat ratus kali lipat. Benih yang berhasil itu memperlihatkan panenan yang wajar, biasa, dan normal. Perumpamaan ini sebenarnya ditata agar pendengar mengharapkan hasil yang berlimpah di akhir sebagai simbol karya Allah yang kuat kuasa. Namun, di akhir cerita ternyata hasilnya biasa-biasa saja, seperti yang terjadi setiap saat di tanah pertanian Palestina yang kering dan berbatu.

Keempat, sebagaimana sudah dikatakan di atas, perumpamaan ini berfokus pada benih, khususnya tentang nasib benih-benih yang ditaburkan. Jadi, dalam perumpamaan ini saling berkaitan tiga unsur yang dominan, yakni kegagalan, mukjizat, dan keseharian.

Bagi Anda dan saya, pesan perumpamaan ini kiranya cukup jelas. Pertama, dalam kegagalan dan keseharian, ada mukjizat karya Allah. Mukjizat dan karya Allah janganlah kita cari dalam hal-hal yang luar biasa, atau dalam hasil serta kesuksesan yang hebat.

Kedua, kegagalan adalah bagian dari proses untuk berhasil. Mukjizat terjadi kalau kegagalan-kegagalan tersebut kita ubah menjadi keberhasilan, dan itu terjadi dalam pengalaman hidup sehari-hari yang biasa.

Ketiga, dalam Kerajaan Allah yang diwartakan dan diwujudkan oleh Yesus, kegagalan-kegagalan tidak pertama-tama menjadi sorotan norma-norma moral, tetapi ditempatkan dalam rangka proses panen. Kerajaan Allah tidak berfokus pada kesempurnaan moral ala Hukum Taurat ataupun panen yang berkelimpahan ala visi apokaliptik, tetapi pada ketekunan dalam pergulatan hidup harian untuk mengubah kegagalan menjadi kesuksesan.

Keempat, perumpamaan tentang benih adalah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus – dan selanjutnya oleh setiap pengikut-Nya – adalah realitas yang sederhana, kecil, tetapi serentak sebuah potensi untuk berkembang dan berhasil. Seperti yang dialami Yesus, pemberitaan saya dan Anda juga menghadapi pelbagai sikap manusia. Meski banyak kegagalan dan penolakan, pasti ada yang menerima, sesuai dengan janji-Nya, “Firman-Ku tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia” (Yes. 55:11).