Menyentuh dan Menjamah

Minggu, 14 Februari 2021 – Hari Minggu Biasa VI

63

Markus 1:40-45

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

***

Tanggal 14 Februari adalah hari istimewa yang tidak mungkin dilewatkan begitu saja oleh orang-orang muda. Pada hari ini dirayakan Hari Kasih Sayang alias Valentine Day. Umumnya, pasangan-pasangan akan mengucapkan kata-kata kasih dan cinta, saling memberi kado berupa cokelat atau bunga, juga mengupayakan waktu untuk bertemu agar bisa saling memeluk, merangkul, dan mencium sebagai tanda kasih dan sayang. Sentuhan memang merupakan tanda kedekatan secara personal dan ungkapan kasih. Namun, pastinya saat ini saling menyentuh sangat tidak dianjurkan. Pandemi Covid-19 membuat orang harus saling menjaga jarak satu dengan yang lain.

Sungguh memprihatinkan bahwa para petugas kesehatan dan pasien Covid-19 beserta keluarga mereka sering kali dicurigai, dijauhi, bahkan ditolak oleh orang-orang sekitar. Pengalaman ini dialami pula oleh para penderita kusta pada zaman Yesus. Mereka dinilai hina, kotor, najis, terkutuk, dan berdosa sehingga dijauhi oleh masyarakat luas. Akan tetapi, hari ini kita mendengarkan bahwa Yesus justru berdekatan dengan seorang yang mengidap penyakit kusta. Yesus mengulurkan tangan-Nya  dan menjamah orang itu. Ini merupakan ungkapan kepedulian, cinta, dan belas kasihan-Nya yang tulus kepada orang yang tersingkir, lemah, dan menderita. Sentuhan Yesus sungguh luar biasa! Seketika itu juga orang itu sembuh dari sakitnya.

Saudara-saudari yang terkasih, dalam konteks sekarang, ketika menyentuh mereka yang sakit tidak dimungkinkan untuk menghindari bahaya penularan Covid-19, mari kita tetap mengupayakan sentuhan. Sentuhan yang dimaksud bukanlah secara fisik, tetapi secara psikis dan spiritual. Mari kita menyentuh mereka yang saat ini sedang kesepian karena kesendirian dan kehilangan, juga mereka yang sedang sakit, menderita, dan tidak berdaya. Sentuhan psikis dalam bentuk dukungan dan peneguhan kiranya mampu menguatkan mereka untuk berjuang dan sembuh dari sakitnya. Sentuhan spiritual dalam bentuk doa kiranya mampu mengubah segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, serta menghadirkan mukjizat kesembuhan bagi mereka yang percaya. Kita percaya bahwa Allah dengan cara-Nya yang istimewa selalu menyentuh kita untuk menghadirkan keselamatan. Mari kita salurkan sentuhan belas kasihan Allah itu kepada orang-orang di sekitar kita yang sedang lemah, sakit, menderita, dan membutuhkan pertolongan kita.