Menjadi Saksi Kebangkitan Tuhan

Minggu, 4 April 2021 – Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan

54

Kisah Para Rasul 10:34a, 37-43

Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya:

“Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”

***

Selamat Paskah! Hari ini dengan penuh sukacita kita merayakan kebangkitan Tuhan. Pada hari yang istimewa ini, bacaan-bacaan Kitab Suci berbicara tentang dua poin pokok. Pertama, tentang makam yang kosong dan para rasul yang menjadi percaya. Kedua, tentang menjadi saksi.

Sebagai bacaan pertama, Kisah Para Rasul mengisahkan tentang aktivitas Petrus di Kaisarea. Di kota itu, ia tampil dan bersaksi di hadapan orang banyak tentang siapa Yesus Kristus, segala pekerjaan yang dilakukan-Nya, hingga tentang kematian-Nya. Yesus diurapi oleh Roh Allah, lalu berkeliling melakukan kebaikan di seluruh tanah Israel, tetapi kemudian dibunuh dan digantung di kayu salib. Allah kemudian membangkitkan Dia, dan Petrus beserta para murid yang lain adalah saksi dari semuanya itu. Bagi Petrus, tidak ada hal lain yang dapat dibuat setelah kebangkitan Tuhan selain menjadi saksi tentang Kristus sendiri. Menjadi saksi berarti menjadi pewarta tentang seluruh hidup, identitas ilahi, dan misi mulia yang diwartakan Yesus sepanjang hidup-Nya.

Rasul Paulus dalam bacaan kedua (1Kor. 5:6b-8) memperdalam arti “menjadi saksi” tersebut dalam kaitannya dengan hidup umat beriman sebagai kesempatan untuk bertobat secara lebih serius dan konsisten. Kepada jemaat di Korintus, ia berbicara tentang saat untuk membuang “ragi yang lama” sebagai simbol keburukan dan kejahatan, dan saat untuk “menjadi adonan yang baru” sebagai simbol kebenaran dan kemurnian.

Bacaan kedua dapat pula diambil dari surat Paulus kepada jemaat di Kolose (Kol. 3:1-4). Di sini, Rasul Paulus berbicara tentang mencari “perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah”. Bagi Paulus, menjadi saksi berarti memulai hidup baru, meninggalkan kejahatan dan kehidupan duniawi, serta mulai lebih serius dan konsisten untuk hidup berdasarkan perkara-perkara surgawi. Inilah makna Paskah bagi kita, yakni agar kita hidup dengan sungguh-sungguh, setia, dan konsisten berdasarkan kebenaran ilahi.