Dipanggil Menjadi Utusan

Kamis, 1 Februari 2018 – Hari Biasa Pekan IV

196

Markus 6:7-13

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

***

Hidup adalah perutusan, dan isi perutusan itu adalah kebaikan, damai, dan kasih. Yesus memilih dan mengutus dua belas rasul untuk menyampaikan Kabar Baik. Oleh-Nya, mereka diajar untuk menempatkan perutusan sebagai yang utama. Karena itu, kepentingan-kepentingan pribadi harus diabaikan, disingkirkan, bahkan dikorbankan. Mereka telah memiliki segalanya, sebab telah diberi bekal istimewa, yakni kuasa dan penyertaan Allah.

Karena itu, ketika menerima perutusan, para murid hendaknya tidak merasa terbebani, melainkan justru harus bersyukur. Mereka patut bersyukur sebab dipilih untuk ambil bagian dalam karya keselamatan yang dikerjakan Allah. Sikap seperti ini akan mendorong seorang utusan untuk fokus terhadap tugasnya. Ia menaati perintah Allah dengan keyakinan bahwa Allah senantiasa menyertai dan mendampingi dirinya dalam menjalankan tugas, termasuk mencukupi segala hal yang menjadi kebutuhannya.

Itulah yang disebut sikap mengandalkan Allah. Dengan bersikap demikian tidak berarti kita “mematikan” kemampuan dan kreativitas kita sendiri sebagai manusia. Kemampuan dan kreativitas justru harus kita gali dalam-dalam, sebab itulah kesaksian hidup yang nyata. Dengan mengandalkan Allah, kita bergantung pada kuasa-Nya untuk menyempurnakan usaha-usaha manusiawi kita.

Saudara-saudari sekalian, marilah kita mensyukuri hidup, tugas, pekerjaan, dan panggilan kita masing-masing, sebab di situlah kita menjadi utusan-utusan Allah untuk menghadirkan kebaikan dan cinta kasih-Nya.